Aksi Pemuda Rembang Tuntut Kekerasan oknum Polisi

Mediatani.com – Rembang. Selasa, 5 Januari 2016 Kepolisian Resort Rembang didatangi oleh puluhan pemuda yang menggelar aksi di depan kantor Polres. Aksi tersebut digelar atas dasar tuntutan massa yang mendesak kapolres untuk menindak tegas pelaku kekerasan terhadap ibu-ibu di tenda pejuang yang berada di sekitar lokasi tapak pembangunan tambang PT Semen Indonesia (PT SI).

“Di sini kami hanya ingin mempertanyakan apakah ada hukuman bagi anggota polisi yang melakukan kekerasan terhadap ibu-ibu pejuang dan kami ingin tahu apa hukumannya,” kata Supiyono salah satu massa aksi tersebut.
Pelaku kekerasan tersebut diduga merupakan oknum dari anggota kepolisian resort Rembang. Pihak kepolisian mengaku bahwasanya keberadaan anggotanya di tapak pabrik tambang PT SI merupakan suatu bentuk penjagaan terhadap objek vital sektor industri nasional.

“Tidak ada alasan yang cukup jelas mengenai keberadaan aparat kepolisian yang membatasi akses warga menuju tenda perjuangan ibu-ibu. Jika alasannya adalah pengamanan terhadap Obyek Vital Nasional sektor Industri (OVNI) maka berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian No 466/M-IND/Kep/8/2014 tentang Obyek Vital Nasional sektor Industri maka Pertambangan Semen oleh PT Semen Indonesia di Rembang tidak termasuk dalam obyek vital yang harus mendapatkan jaminan pengamanan dari Kepolisian”. Ungkap Dedy Setyo selaku koordinator aksi tersebut.

Ia menambahkan dalam tuntutannya pihak kepolisian harus menarik anggotanya di depan portal pabrik, karena hal tersebut dirasa membatasi akses keluar dan masuk ibu-ibu pejuang dan sanak keluarganya ke tenda perjuangan yang berada di sekitaran tapak pabrik PT SI.

Hingga laporan ini diturunkan, pihak kepolisian Resort Rembang bersama satuan pengamanan (satpam) perusahaan juga telah mengerahkan anggotanya untuk membuat tenda dan menutup akses di jalan menuju tenda perjuangan ibu-ibu.

“Keberadaan aparat kepolisian yang berdampingan dengan satpam PT Semen Indonesia menyulitkan warga yang hendak menjenguk ibu-ibu di tenda serta secara psikologis merupakan bentuk intimidasi terhadap warga yang masih bertahan di tenda.” Tambah Dedy dalam laporannya kepada awak media.

Di akhir aksinya massa berhasil untuk masuk dan melakukan mediasi dengan pihak kepolisian. “Kami menginginkan polisi bisa bersikap netral serta dapat menjalankan fungsi serta kewajibannya dalam melindungi dan mengayomi masyarakat”. Pungkas Dedy saat mediasi dengan pihak kepolisian.

(MAK)