Amran Sulaiman: Saya Suka Makan Coto Jeroan

Mediatani.com – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman ternyata memiliki hobi mengkonsumsi kuliner khas Makassar yaitu Coto yang berbahan jeroan maupun daging, bahkan lebih sering mengkonsumsi Coto Jeroan. Hal ini terungkap dalam kicauan Mentan Amran Sulaiman di akun twitternya @Amran_sulaiman1.

“Memberi sebanyak2nya pilihan. Tugas negara me-merdeka-kan rakyat, untuk memilih pilihannya. Sesuai kebutuhan dan kemampuan. Selamat pagi. Saya memilih suka makan coto. Di daerah kamu, jenis kuliner apa sj yg bahannya dari jeroan/daging? #PilihanMerdeka,” kicauan Amran di akun Twitter pribadinya.

Salah seorang warga Makassar, Misda Ulviatmi Dalmi mengungkapkan bahwa jeroan itu salah satu bahan kuliner nusantara selain daging. Jeroan bukan alien dan juga bukan barang baru.

“Jeroan adalah bagian dari subkultur kuliner nusantara,” ungkap Misda di Makassar, Rabu (24/8).

Untuk itu, Misda mengapresiasi rencana pemerintah untuk mengimpor jeroan. Sebab hal itu tidak sebatas sebagai pemadam dalam menstabilkan harga daging, namun memberikan juga pilihan pada masyarakat apakah ingin mengkonsumsi daging atau jeroan. Selain itu, pilihan juga sebagai bahan varian kuliner nusantara.

Menurutnya, terkait penyakit yang ditimbulkan dari mengkonsumsi jeroan, hal itu tergantung dari kita yang mengatur porsinya. Apalagi jeroan yang diimpor pemerintah sudah dijamin kemananannya.

“Air putih saja kalau dikonsumsi berlebihan bisa mematikan. Intinya, pemerintah melalui Kementerian Pertanian ingin edukasi rakyat dengan menyajikan pilihan-pilihan yang tentunya tetap menghormati habitus dan tradisi mulia kuliner rakyat,” tuturnya.

Baca Juga: Kenapa Kementan membuka impor jeroan?

Sementara itu, salah seorang netizen, Rustam ibrahim mengatakan banyak sekali rakyat Indonesia yang mengkonsumsi jeroan, seperti soto madura, sop saudara, sop kaki jeroan. “Sampai saat ini, saya masih mengkonsumsi jeroan, namun belum ada penyakit asam urat yang timbul,” ujar Rustam dalam akun resmi twitternya, @Rustamibrahim.

Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita mengatakan dalam impor jeroan, pemerintah melakukan pengawasan yang sangat ketat dari Karantina dan mengerahkan tim dari Direktorat Kesehatan Hewan untuk memeriksa ada atau tidak adanya kandungan bakteri yang menimbulkan penyakit serta pengawasanya ketat sampai ke Pemerintah Daerah tujuan atau penerima.


Sebenarnya, kata Ketut, dalam impor ratusan ribu ekor sapi bakalan selama ini, justru membawa ribuan kilogram jeroan di dalam tubuh sapi tersebut ke Indonesia. Lalu kemana jeroannya?, apakah dibuang atau ditanam?, tentu tidak. Artinya mengimpor sapi bakalan sesungguhnya juga mengimpor jeroan. Namun kenapa isi jeroan hasil impor bakalan ini tidak pernah dipermasalahkan. Demikian juga dalam pemotongan sapi lokal.

“Inilah yang saya maksudkan bahwa masyarakat perlu kita cerdaskan bersama, sesuai bidang keilmuan yang dimiliki. Kesungguhan Kementan dalam merespon kebutuhan pangan tentu dinilai oleh berbagai otoritas yang kompeten dibidangnya. Kita tidak akan memberi bantahan apapun, jika hal itu dilakukan secara obyektif dan profesional,” pungkasnya.

/AB