Begini Cara Petani Malang Perangi Hama Tikus

Mediatani.com –  Tikus memang memang hama yang terbilang sulit untuk dibasmi di lahan pertanian. Hewan pengerat satu ini memakan batang maupun bulir gabah yang dapat dijangkaunya. Tikus pun merusak pematang sawah untuk dijadikan tempat tinggalnya secara berkoloni.

Petani terkadang khawatir untuk menggunakan pemusnah massal. Selain dapat mencemari tanah pada sawah, racun juga berbahaya bagi manusia jika racunnya terhirup. Uniknya lagi, tikus muncul seperti mati satu tumbuh seribu di sawah. Untuk itu perlu cara-cara khusus untuk menanganinya.

Siti Nuraisyah Dewi, D.A. Pitaloka penulis asal Malang, mengungkapkan cara petani malang memerangi tikus di sawah. Tulisan yang dilansir oleh viva.co.id itu menjelaskan bagaimana petani menggunakan burung hantu hingga cara adat local untuk mengusir tikus.

Kepada dia, Samsi, petani Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang menerangkan bagaimana dampak dari upaya petani malang mengusir tikus. “Ini sudah jauh berkurang, dibandingkan tanam musim hujan sebelumnya,” kata Samsi, sambil menutup lubang tikus di tanah basah sawahnya (27/4/2016).

Begini Cara Petani Malang Perangi Hama Tikus Di Sawah

Undang burung hantu

Hama tikus sudah lama jadi musuh petani padi di Malang. Tikus mampu memakan banyak dalam satu kali musim panen.

Seekor tikus betina bisa beranak hingga 80 ekor tikus dalam satu kali musim panen. Pada masa tanam di musim kemarau, hama tikus dan hama lain mampu menggerogoti produktivitas padi di ladang milik majikan Samsi hingga separuhnya.

“Panen bisa tinggal 1,5 ton kalau tanam di musim seperti ini (menjelang kemarau). Selain tikus, ada banyak hama lain, seperti hama wereng dan sundep,” katanya.

Petani di sekitar Desa Karangsuko memakai banyak cara untuk membasmi hama di sawah mereka. Untuk mengusir tikus petani sering mengandalkan predator aslinya.

Melepas ular untuk menghabiskan tikus pernah dicoba, meskipun tak berlanjut. Keberadaan ular yang sempat di lepas di sawah, tak lagi dijumpai petani tak lama setelah ular di lepas.

Samsi juga selalu menebar pupuk kandang berupa kotoran kambing, dicampur dengan air kencing kambing di ladangnya untuk mengusir tikus.

“Ular itu kami beli, kami lepas, tetapi sepertinya banyak pemburu yang menangkap ularnya untuk dijual,” katanya.

Upaya yang paling akhir adalah dengan membangun rumah burung hantu atau pagupon, di antara petak-petak sawah di Desa Karangsuko.

Sudah dua bulan terakhir, ada banyak rumah burung berdiri di tengah petak sawah. Ada yang membangunnya khusus dengan menancapkan tiang pancang dari beton, atau kayu setinggi tujuh meter.

Ada pula yang memanfaatkan pohon randu di tengah pematang sawah dan meletakkan rumah burung di puncak pohonnya. Petani membangunnya secara swadaya, tanpa menggunakan anggaran dari pemerintah.

“Rumah itu untuk mengundang burung hantu datang dan memangsa tikus saat malam,” lanjut pria yang menghabiskan sekitar 30 tahun usianya sebagai petani itu.

Dua bulan berdiri, Samsi mengingat, dia sempat menemukan bangkai tikus di pematang sawah. Rata-rata terkoyak di bagian tubuh.

Burung Hantu tak rakus, hanya memakan hati tikus dan meninggalkan bangkai sebagai bukti buruannya pada petani.

Namun, dia tak lagi menemukan bangkai tikus di sekitar petak sawahnya beberapa pekan terakhir. Samsi berharap, itu karena jumlah tikus tak sebanyak pada saat pagupon belum dibangun.

Meskipun dia juga khawatir burung hantu yang bersarang di pagupon itu saat ini tak lagi pulang ke sarang yang sama.

“Ada pemburu burung yang menangkap burung hantu dan menjualnya. Tetapi tikus memang tak sebanyak dulu sejak ada pagupon ini,” katanya.

Basmi dengan adat lokal

Berbeda dengan di Kabupaten Malang, petani di Kota Malang, banyak menggunakan adat lokal untuk membasmi hama tikus.

Petani mengantisipasi musim kemarau di masa tanam April ini, meskipun cuaca tak bisa diprediksi lagi.

“Kalau kalendernya ini masuk musim kemarau, hama tikus semakin ganas, karena mereka suka lahan yang tak tenggelam dengan air,” kata Hanafi Afandi, Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan Kota Malang (KTNA), Rabu 27 April 2016.

Hama tikus disebutnya hama yang paling susah dibasmi. Kota Malang dengan lahan baku sawah 1.214 hektare itu sekitar 60 persennya telah menggunakan irigasi teknis.

Produktivitas lahan per hektare dalam kondisi normal mampu mencapai 7,25 ton.

“Asalkan petani menanam dengan kompak di satu hamparan yang sama, akan mengurangi padi yang habis di makan tikus,” katanya.

Selain kompak, petani juga sering menggunakan cara yang diajarkan turun temurun dari petani setempat. Mulai dari mengitari sawah berlawanan dengan arah jarum jam, menyebar buah Bintaro hingga membuat sesaji khusus untuk mengusir tikus di setiap pojoknya.

Petani Kota Malang tak banyak membasmi tikus dengan menggunakan predator alaminya, lantaran harus bersaing dengan pemburu ular dan burung hantu.

“Dulu pernah menyebar ular sebagai predator alaminya, tapi kemudian habis diburu manusia untuk dijual. Petani banyak mempercayai adat lokal karena kalau mereka yakin hasilnya juga bagus,” katanya.

Kota Malang memang bukan lumbung padi Jawa Timur. Produktivitas padi tahun lalu mencapai 6.055 ton padi. Sementara itu, kebutuhan 850 ribu penduduknya mencapai 96.700 ton per kg.

“Kami belum bisa swasembada beras, tetapi kualitas padi Kota Malang  jadi salah satu yang terbaik di kelas premium, karena air yang berlimpah dan tanah yang subur,” kata Kepala Dinas Pertanian Kota Malang, Hadi Santoso.

Lahan sawah di Kota Malang terus menyempit akibat tergusur pembangunan. Hadi menyebut, lahan padi aktif sepanjang 2015 seluas 865 hektare terus menyusut dan menyisakan 845,5 hektare pada Maret 2016.

Panen dituntut bertambah

Hal serupa juga terjadi di wilayah Kabuapten Malang. Petani dituntut kreatif dan produktif dengan lahan yang menyempit. Salah satunya, lewat program 1.000 pagupon.

Ide pembangunan pagupon disebar oleh penyuluh lapangan dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang.

Tahun ini Kabupaten Malang, menargetkan panen padi mencapai 71 ribu hektare panen dengan intensifikasi 45 ribu hektare lahan padi dipanen tiga kali dalam satu tahun.

“Luas lahan padi di Kabupaten Malang sebanyak 45 ribu hektare, targetnya panen mencapai 71 ribu hektare dengan tiga kali panen setahun,” kata Agus Tri Sunandoko, Kabid Produksi Tanam Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang.

Program pembangunan 1.000 pagupon adalah satu di antara sejumlah strategi yang diterapkan Dinas Pertanian untuk meningkatkan hasil panen padi tahun ini.

Program itu berbasis swadaya dari masyarakat dengan melibatkan unsur TNI Angkatan Darat setempat.

“Kami hanya memberikan penyuluhan tentang pagupon, pembangunannya dari swadaya petani dan unsur TNI AD setempat yang ikut membantu,” katanya.

Selain pembangunan 1.000 pagupon, Dinas juga menyediakan berbagai sarana seperti traktor, anggaran untuk membuat jalur pengairan dan sumur bor di musim kemarau dan pupuk organik gratis yang dibagikan pada petani.

Lewat program intensifikasi, indeks prestasi 300, Kabupaten mematok target panen mencapai tujuh ton padi perhektare, sementara target panen tahun lalu sebanyak 6,8 ton padi per hektare telah terpenuhi.

“Kami optimis target tahun ini juga terpenuhi. Realisasi pada lahan yang terawat dan banyak menggunakan pupuk organik panen bisa mencapai 14 ton per hektare,” katanya.

Saat ini terdapat 45 ribu hektare lahan padi yang dilindungi agar tak beralih fungsi. Caranya Dinas Pertanian melakukan moratorium untuk tidak mengeluarkan rekomendasi ijin alih fungsi lahan pertanian tersebut.

Sementara itu, produksi padi nyata tahun lalu mengalami surplus sebanyak 68 ribu ton sepanjang tahun.

sumber : viva.co.id (Lihat Sumber Asli di SINI)
Penulis: Siti Nuraisyah Dewi, D.A. Pitaloka (Malang)