Buah sukun, alternatif atasi krisis pangan dunia

Mediatani.com – Bogor. Satu miliar orang dari seluruh dunia tidak mampu mendapatkan makanan dan dibawah ancaman kelaparan. Sedangkan 800 juta manusia di 16 negara menderita kelaparan serius. Pada periode 2014-2016 menurut FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) Indonesia ada sekitar 20 juta orang yang kelaparan setiap hari di nusantara. Angka di tersebut sebenarnya telah menunjukan penurunan 11.8% dari jumlah kelaparan di tahun 1990-1992. Hal tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi Indnonesia.

Berbagai usaha dilakukan untuk mengatasi kelaparan, salah satunya dengan mencari sumber pangan alternatif. Diane Ragone, Direktur dari The Breadfruit Institute, National Tropical Botanical Garden pada beberapa tahun silam meluncurkan program Global Hunger Initiative. Program ini bertujuan menyebarkan sukun secara global. Hasilnya program ini mendapatkan respon yang baik dan 30 negara termasuk Ghana, Haiti, Kenya, Jamaica, Nicaragua, dan Pakistan sudah menerima 40.000 pohon.

The Breadfruit Institute adalah bagian di National Tropical Botanical Garden di Hawaii yang didirikan pada tahun 2003. Konservasi dan penelitian etnobiologi tanaman sukun adalah misi dari The Breadfruit Institute. Selain itu The Breadfruit Institute juga ikut merespon masalah krisis keamanan pangan. Hal tersebut dilakukan dengan meningkatkan kualitas sukun di wilayah tropis. Melalui kerjasama dengan berbagai pihak sukun dikembangkan menjadi tanaman yang baik untuk pertanian, agroforestri, dan reforestasi.

Sukun memiliki nama ilmiah Artocarpus altilis, buah ini dapat menjadi sumber pangan alternatif. Buah yang tidak berbiji dan bertekstur empuk membuat sukun memiliki sebutan breadfruit yang artinya buah roti. Pohon sukun memiliki nilai tambah dibanding tanaman sumber karbohidrat lainnya. Usia pohon sukun terbilang cukup panjang, terutama juka dibandingkan tanaman sereal yang hanya sekali panen. Selain itu pohon sukut mampu tumbuh tanpa perawatan khusus, lalu pohonnya mulai berbuah pada usia ke 3-4 tahun.

Buah sukun memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi serta sumber serat pangan yang baik. Kandungan mineral seperti kalsium, besi, koper, magnesium, potasium ada di dalam buah sukun. Selain itu sukun juga mengandung thiamine atau vitamin B1 yang baik untuk jantung dan otak, serta mengandung niasin atau vitamin B3 yang baik untuk peredaran darah kesehatan kulit.

Dalam sejarah manusia, buah sukun telah ditanam sejak 3000 tahun yang lalu di kawasan Oceania. Buah ini pun telah tersebar luas di berbagai wilayah dunia, hanya belum banyak yang membudidayakannya. Padahal membudidayakan sukun tidak memerlukan banyak tenaga, tidak seperti padi yang memerlukan tenaga untuk panen dan penanaman kembali. Selain itu pohon sukun tidak menurunkan kualitas tanah humus dengan cepat, serta dapat menjadi penyimpanan karbon. (ntbg.org, fao.org)

/FDS/MAK-ed