Budidaya Pertanian Di Lahan Marjinal Harus Perhatikan Windbreak

MediaTani.com – Meningkatnya jumlah penduduk yang begitu cepat haruslah seiring dengan peningkatan ketersediaan bahan pangan. Namun di sisi lain justru yang terjadi adalah penyempitan luas lahan pertanian. Akhirnya peningkatan produksi pangan dunia tidak mampu untuk mengejar kecepatan pertambahan penduduk.

Mengingat masalah tersebut, salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah perluasan areal pertanian ke arah lahan marjinal. Lahan marjinal merupakan lahan yang bermasalah dan mempunyai faktor pembatas tinggi untuk tanaman. Salah satu lahan marjinal yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan di Indonesia dalah lahan pantai, sebab Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki beribu-ribu pulau sehingga memiliki pantai yang sangat luas.

Dilansir dari laman kompasiana, menanam tanaman hortikultura di lahan pasir pantai banyak dipraktekkan di pantai selatan Yogyakarta, sekitar pantai Glagah dan pantai Samas. Untuk memBudidayakan tanaman hortikutura di lahan pantai ada beberapa hal yang harus dipersiapkan antara lain :

  • Windbreak atau pematah angin untuk melindungi tanaman dari uap garam.
  • Bahan organik, baik dari sisa tumbuhan maupun limbah peternahan, untuk memperkaya unsur hara pada tanah pasir yang miskin hara.
  • Bahan organik atau bahan lain yang membantu agar air dapat menjaga kelembaban tanah, sehingga kebutuhan air tanaman dapat terpenuhi.
  • Penyiraman, ini biasanya setelah tengah hari, biasanya petani melakukan penyiraman, bukan untuk mengairi, tetapi untuk menghilangkan garam yang menempel pada permukaan tanaman.

Petani di kawasan pesisir selatan Yogyakarta, selain mengambahkan pupuk organik untuk tanamannya, sering juga menambahkan jerami pada permukaan tanah untuk mengurangi penguapan. Selain itu petani juga memanfaatkan air tanah yang diangkat ke permukaan dengan menggunakan pompa bensin dan di tampung dalam sumur-sumur kecil yang terhubung satu sama lain melalui pipa dibawah tanah atau yang biasa disebut dengan sumur renteng.

Sejalan dengan pengetahuan petani, banyak petani yang mampu memotong biaya tenaga kerja dengan mengganti sistem pengairan siram dengan menggunakan gembor menjadi sistem irigasi tetes sederhana yang memanfaatkan pipa paralon. sistem pengairan tetes ini efektif untuk tanaman seperti semangka, tomat, cabai, dan juga bawang putih. Di lahan pantai, kreativitas petani dalam mensiasati kondisi alam menjadi penunjang keberhasilan usaha taninya.

Apabila di lahan pantai, terdapat dua hal yang perlu disiasati yaitu kondisi tanah dan ketersediaan air, pada tanah pertanian yang subur, hanya perlu mensiasati ketersediaan air, terutama pada musim kemarau.

Untuk lahan yang subur tetapi menghadapi kendala ketersediaan air, bisa diterapkan teknologi pengairan yang efisien seperti sistem irigasi tetes (drip irrigation) beserta modifikasinya. dengan sistem irigasi tetes ini disamping memberikan air pada tanaman sesuai dengan kebutuhan air tanaman, sistem ini juga mampu menekan pertumbuhan gulma.