Bulog Bojonegoro Keliling Desa Beli Gabah Petani

Mediatani.com – Pihak Bulog Sub Divisi Regional (Sub Divre) III Bojonegoro akan turun ke desa-desa di Kabupaten Bojonegoro untuk membeli gabah hasil panen dari para petani. Upaya itu dilakukan untuk mencegah tengkulak menebas gabah dari petani dengan harga yang murah.

Saat ini para petani yang mempunyai lahan di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo yaitu meliputi Kecamatan Padangan, Gayam, Kalitidu, Dander, Trucuk, Malo, Bojonegoro, Kapas, Balen, Kanor hingga Baureno sedang panen raya padi. Hasil panen padi pada musim hujan ini cukup berhasil namun harga gabah cenderung jeblok.

Menurut Wakil Kepala Bulog Sub Divre III Bojonegoro, Omar Sharif, mengatakan saat ini memang banyak tengkulak dari luar Bojonegoro seperti dari Pati, Rembang, Blora, Jawa Tengah yang masuk ke Bojonegoro dan memborong gabah hasil panen. Selain itu, banyak pula tengkulak dari wilayah Jawa Timur seperti Kediri, Lamongan, dan Gresik.

Para tengkulak itu, kata dia, memang biasanya menebas gabah langsung dari persawahan saat panen padi. Tengkulak memborong gabah yang sudah dimasukkan karung selanjutnya gabah itu dikirim ke luar daerah dengan menggunakan truk. “Tengkulak ini memang sedikit banyak ikut menentukan harga gabah di tingkat petani saat panen raya seperti sekarang,” ujarnya, Selasa (08/03/2016).

Namun, kata dia, tengkulak juga boleh seperti itu karena terkadang kualitas gabah hasil panen juga tidak terlalu bagus seperti kadar air gabah yang terlalu banyak, banyak bulir padi kempes atau remuk, serta terlalu kotor.

Misalnya, tanaman padi yang direndam banjir luapan Bengawan Solo beberapa waktu lalu kualitasnya juga tidak bagus seperti membusuk dan kadar airnya terlalu banyak. Tidak jarang pula tanaman padi yang terendam padi dipanen dini sehingga hasilnya kurang bagus.

“Terkadang beras itu dibeli oleh tengkulak kemudian disetor ke Bulog. Karena kualitasnya kurang bagus, Bulog mengembalikan ke tengkulak tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, harga gabah kering dari tengkulak atau pemasok gabah dibeli oleh Bulog seharga Rp3.700 per kilogram. Biasanya, kata dia, tengkulak itu membeli dari petani sekitar Rp3.400 – Rp3.600 per kilogram.

Sementara itu jika mengacu pada Inpres Nomor 05 tahun 2015 maka harga gabah sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) senilai Rp 3.700 – Rp 3.750 per kilogram. Sedangkan harga gabah kering giling sesuai HPP Rp 4.600 – Rp 4.650 per kilogram.

Sementara itu menurut Samad, 40, petani di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, mengungkapkan, saat ini sebagian besar petani yang mempunyai lahan di bantaran Bengawan Solo memang sedang panen padi. Hasil panen padi kali ini, kata dia, cukup bagus karena tidak sampai direndam banjir. “Hasil panen padinya cukup bagus,” ujarnya.

Namun, kata dia, para petani kebanyakan memang langsung menjual gabah hasil panen tersebut pada para tengkulak dari daerah Pati dan Rembang, Jawa Tengah. “Sudah jadi kebiasaan setiap kali panen hasil gabahnya langsung ditebas oleh para tengkulak,” pungkasnya.

[uuk/but/beritajatim.com]