Di Aceh Poktan Kecewa, Kedelai Hanya Tumbuh 30 Persen

MediaTani – Di Desa Ingin Jaya, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, Dari 115 haktare tanaman kedelai hanya 30 persen tanaman kedelai yang tumbuh dengan baik. Sedangkan 70 persen diantara tumbuh tidak subur dan kerdil. Para petani menuding kegagalan itu disebabkan bibit kedelai yang dibagi kepada petani adalah hasil oplosan atau bercampur.

Meskipun katanya, Kelompok Tani Bersama dengan luas lahan 30 hektare, bibit yang diberikan sebanyak 1,5 ton, sedangkan untuk Kelompok Tani Keluarga dengan luas tanam 20 Ha, bibit yang diberikan sebanyak satu ton. “Jumlah Kelompok Tani di Desa Ingin Jaya sebanyak enam kelompok dengan luas tanam seluas 115 Ha serta kebutuhan bibit kedelai sebanyak 5,75 ton . Dari luas tersebut, pertumbuhan kacang kedelai yang hidup sempurna sekitar 30 persen saja. “Untuk Poktan Keluarga dari luas tanaman 20 ha hanya 10 persen yang tumbuh dengan baik dan itu terlihat di lokasi penanamana kedelai Kelompok Tani (Koptan) Bersama dan Koptan Tani Keluarga, tanaman kedelai yang ditanam terlihat sebagian tumbuh kerdil dan sebagian tumbuh subur.

Ketua Kelompok Tani Bersama, Kasan dan Ketua Kelompok Tani Keluarga Saharuddin mengatakan, dibandingkan tahun lalu kondisi tanaman kedelai sangat jauh berbeda. Pada tahun 2014 kondisi tanaman kedelai pertumbuhannya subur sekali dan tidak ada yang kerdil. Ucap kasan, Hal ini dikarena bibit kedelai yang diberikan kepada petani bagus. Berbeda dnegan bibit yang diberikan tahun ini, kondisi bibit sangat tak bagus yaitu berwarna hitam dan busuk. Bahkan, tambahnya ada juga bercampur dengan jagung. “Bibit itu bercampur yang bagus dan yang jelek, tapi yang jeleknya lebih banyak,”.

Tiga tahun lalu bibit kedelai itu dibeli langsung oleh kelompok tani, tapi sekarang yang beli Dinas Pertanian. Bibit yang diberikan kepada Poktan di Desa Ingin Jaya sudah tiga kali di tolak petani karena bibitnya jelek. Banyak yang hitam, ada juga dicampur jagung, warna tidak bening sedikit agak hijau. Kondisi seperti itu diakui oleh para petani kedelai itu sangat rugi, selain kehilangan tenaga dan waktu juga materil.

Kasan juga menambahkan, kendati kondisi lahannya kering, biasanya tanaman kedelai tetap tumbuh. Tapi, bibit yang diberikan tahun ini memang dari awal tidak mau tumbuh.

Pada saat Kabid Produksi Dan Perlindungan Tanaman, Dinas Pertanian dan Kelautan Aceh Tamiang ditanya mengenai dari mana asal bibit tersebut, Fatimah Hanum mengaku bibit kedelai yang ditanami petani bukan bibit oplosan melainkan berasal dari penangkar benih kedelai petani Bandar Pusaka dan sudah melalui uji benih di Banda Aceh. Fatimah Hanum juga mengatakan Kalau pertumbuhannya ada yang kerdil, itu karena kondisi tanah terlalu kering. Dirinya juga sudah anjurkan pada petani jika ada sumur pancang harus disiram tanaman kedelai. Kedua, ditutup dengan abu sekam lalu disiram, seharusnya seperti anjuran kita dilaksankan tapi petani tidak melakukan itu.

Kadang perlakukan ladangnya juga berbeda seperti di Banda Mulia dialiri dulu sawahnya baru ditanam benih kedelai. “Benih kedelai semuanya sama, kenapa tumbuhnya bagus seperti di Desa Bandung jaya tumbuhnya bagus, Desa Suka Ramai ada yang bagus dan ada yang tidakSeperti di Desa Ingin Jaya, ada empat kelompok, ada kelompok keluarga tumbunya bagus, namun ada disebelahnya tumbuhnya tidak bagus, padahal benihnya sama.,” ujar Hanum. (NI/MT)