Din Syamsuddin Rintis Gerakan Lingkungan Eco-RI

Mediatani.com – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dien Syamsuddin mengungkapkan bahwa dirinya tengah merintis sebuah gerakan lingkungan yang bernama eco-RI (Eco Rumah Ibadah). Hal tersebut ia ungkapkan dalam acara Refleksi Akhir Tahun menyambut HUT KAHMI ke-50 dengan tema “Komitmen dan Rencana Aksi Indonesia Menurunkan Gas Rumah Kaca Pada Sektor Prioritas Pasca Konferensi Para Pihak (COP 21) Paris 2015” Selasa, 29/12/2015 di Hotel Best Western Premiere The Hive, Jakarta.

“Eco-Masjid akan segera kita mulai bulan januari, tentu pengasrian, baik fisik masjid, lingkungan maupun sanitasi. Ini bagian dari eco-RI (rumah ibadah)” tutur Din Syamsuddin.

Din syamsuddin yang juga menjadi delegasi Indonesia dalam Konferensi COP 21 di Paris tersebut mengatakan bahwa persoalan lingkungan hidup saat ini sudah menjadi masalah krisis kehidupan global yang harus kita selesaikan bersama-sama, termasuk para pemuka agama.

“Krisis karena rendahnya pemimpin moral umat manusia jalan keluarnya harus meningkatkan moral, terserah apa agamanya” ungkapnya.

Menurut Din syamsuddin, permasalahan lingkungan hidup tidak dapat dirubah secara drastis kecuali merubah sistem kemasyarakatan dunia yang terlalu antroposentrik, yang kurang theosentrik serta meninggalkan nilai-nilai moral.

Oleh karena itu, tambahnya, harus ada langkah global untuk memulai sebuah gebrakan dalam memperbaiki permasalahan lingkungan hidup.“Jika para ummat agama di dunia bergerak, mungkin saya kira ada secercah harapan. Karena kalau tidak, tidak terjadi perubahan, kerusakan akan berlanjut dan kita hanya menjadi pemadam kebakaran” tegasnya.

Pria berumur 57 tahun ini mengaku optimis gerakan Eco-RI dapat memberikan manfaat kepada lingkungan hidup. Menurutnya gerakan sekecil apapun jika dilakukan dengan niat baik pasti akan berbuah baik pula.
“Kita mulai dari rumah Tuhan, sehingga ummat beragama juga bisa bergerak untuk menciptakan lingkungan hidup yang baik.” Tegasnya.

Menurutnya, gerakan tersebut akan berlaku dan dilaksanakan di semua rumah ibadah. Sehingga ke depan ada eco-masjid, eco-gereja, eco-vihara, eco-pura, dan eco-kuil. Hal tersebut akan menjadi penting karena banyak masyarakat yang berada di rumah-rumah ibadah.

“Kalau kita bisa menanamkan mulai dari rumah ibadah, itu bisa menular ke kehidupan yang lebih luas di masyarakat” tuturnya.

Beliau menutup dengan berharap kepada seluruh pemuka agama agar dapat berperan serta dalam gerakan peduli lingkungan hidup. “saya rasa apapu agamanya, kita diperintahkan menjadi orang yang berbuat merehabilitasi bukan orang yang merusak” tutupnya. (MAK)