Harga Beras Di Indonesia Murah

Penulis : Dr. Agung Hendriadi (Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian RI)

Pernyataan yang mengungkapkan bahwa harga beras di Indonesia adalah termahal di dunia adalah tidak benar, hal ini dapat kami terangkan sebagai berikut:

Harga beras yang saat ini telah ditetapkan Pemerintah melalui HPP sebesar Rp.7300/Kg, dengan harga tertinggi sampai dengan tanggal 23 Februari 2016 di PIBC dan di beberapa pasar adalah Rp.13.500/Kg, dengan demikian harga rata-rata beras di Indonesia adalah Rp.10.400/Kg.

Perlu kami sampaikan bahwa Kementerian Pertanian beberapa waktu yang lalu telah membuktikan dengan melakukan survei ke negara Vietnam. Harga beras di negara tersebut di tingkat konsumen, harga terendah adalah Rp.6.097/Kg dan harga tertingginya mencapai Rp.18.292/Kg, dengan rata-rata harga beras Vietnam adalah Rp.12.195/Kg.

Untuk harga beras di Thailand terendah adalah Rp.10.585/Kg dengan harga tertinggi adalah Rp.10.837/Kg, dengan rerata harga beras di Thailand adalah sebesar Rp.10.711/Kg

Harga beras di India terendah adalah Rp.11.056/Kg dengan harga tertinggi adalah Rp.11.125/Kg, dengan rerata beras di India adalah sebesar Rp.11.091/Kg

Dari harga tersebut dapat terlihat bahwa harga beras di Indonesia adalah masih lebih murah dibandingkan harga beras di tiga negara thailand, vietnam dan india.
Kondisi untuk harga Gabah Kering Giling (GKG) yang berlaku saat ini seharga Rp.4.250/Kg, dengan rendemen giling sebesar 58-60% dengan ongkos giling maksimal Rp. 200 – 300/kg, maka mestinya harga beras di penggilingan akan berkisar Rp. 6.800 – 7.200/kg.

Jika terdapat harga beras di Indonesia dengan harga Rp.12.000/Kg maka hal tersebut dianggap wajar. Harga tinggi ini karena adanya margin Pengangkutan dan Perdagangan (MPP) yang mencapai 50 – 60% dikarenakan middle-man yang terlalu banyak. Ini jauh diatas angka yang dikeluarkan BPS terkait MPP komoditas antara 10 – 30%.

Kementerian Pertanian juga telah melakukan perbaikan sistem penggilingan padi. Kementan sejak 2014 sudah memulai dengan program revitalisasi Penggilingan Padi Kecil (PPK) untuk meningkatkan rendemen giling 5%, atau mencapai target 62%. Program ini terus akan berlanjut secara bertahap hingga 2019.

Total Penggilingan Padi Kecil (PPK) 182.200 unit yg saat ini dalam program revitalisasi untuk mengangkat remdemen giling mencapai 62%. Sedangkan Penggilingan Padi Besar yang hanya 1% yang memang belum menjadi prioritas karena potensi kemandiriannya lebih besar. Kementerian Pertanain lebih mengutamakan untuk mendongkrak perekonomi kerakyatan yang berpengaruh langsung kepada pemberdayaan ekonomi masyarakat perdesaan.

Terkait klaim bahwa efisiensi produksi padi rendah adalah tidak beralasan. Harga faktual Gabah Kering Panen (GKP) yang saat ini berkisar Rp.3.800 – 4.000/Kg membuktikan bahwa efisiensi produksi berasnasional sudah cukup baik.

Keberadaan stock dan harga beras 3 bulan terakhir yg tercatat di beberapa pasar induk, mestinya cukup beralasan kita tidak membuat kebijakan impor. Harga beras di beberapa pasar induk tersebut bersaing dengan harga beras di Vietnam, Thailand dan India, masih di bawah harga rerata beras di 3 negara tersebut.

Dengan beberapa data yang kami sampaikan di atas, maka kami menganggap apa yang disampaikan oleh Saudara Bustanul Arifin, bahwa harga beras di Indonesia memiliki harga tertinggi di dunia salah dan mungkin perlu untuk melakukan studi lagi ke beberapa negara dimaksud.

Namun, jika harga beras impor dari negara tersebut dibawah dari harga tingkat konsumen dapat dipastikan ada permainan dumping harga ekspor dari negara negara tersebut.

Penulis: Dr. Agung Hendriadi, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian RI
Penulis: Dr. Agung Hendriadi, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian RI