Irigasi Hemat Air Dongkrak Produktivitas Tanaman Padi

Sawah Dengan Irigasi Hemat Air

MediaTani – Inovasi budi daya tanam padi ramah lingkungan berkelanjutan dan produktivitas tinggi perlu digalakkan para petani. Salah satunya dengan mengubah pola budi daya padi sawah yang sangat boros air dengan budi daya sawah yang hemat air.

Dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (16/6), Joko Sujono mengatakan, penerapan budi daya padi sawah dengan metode System of Rice Intensification (SRI) cukup efektif meningkatkan produktivitas gabah di Indonesia. Metode ini dapat menghasilkan 7,25 ton per ha dengan penghematan air 40 persen. Bandingkan dengan sistem konvensional yang hany mampu menghasilkan 3,92 ton per ha.

Menurutnya, keuntungan penerapan metode SRI dalam budi daya padi sawah, dibandingkan sistem konvensional di lebih dari 50 negara, ternyata mampu meningkatkan produksi hingga 20-100 persen. “Bila diterapkan, ini bisa mengurangi pemakaian benih hingga 90 persen dan menghemat air hingga 50 persen,” ujar pengajar Fakultas Teknik UGM ini.

Metode SRI organik bahkan memberi hasil lebih baik. Ini karena jumlah anakan lebih banyak, serta malai lebih panjang sehingga bulir lebih banyak, lebih kuat, dan lebih sehat. Bahkan, biaya produksi lebih rendah dari penghematan benih hingga 90 persen dibanding cara konvensional. “Biaya pupuk juga jauh kebih murah karena dibuat sendiri,” ucapnya.

Subsidi
Memang, subsidi pupuk dan benih dari tahun ke tahun terus meningkat. Namun, menurut Joko, hal tersebut belum dapat menaikkan produktivitas gabah secara signifikan. Dalam lima tahun, rata-rata kenaikan produksi gabah berkisar 2,6 persen. Kenaikan tersebut belum dapat meningkatkan nilai tukar petani (NTP), bahkan petani masih mengalami defisit.

“Kenaikan produksi 2,6 persen tidak sebanding dengan pengeluaran petani, baik untuk sarana produksi pertanian maupun untuk memenuhi kebutuhan hidup petani, meskipun pupuk dan benih sudah disubsidi pemerintah,” tuturnya.

Ia menambahkan, ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia menjadi beban tambahan bagi petani. Ini menambah biaya produksi dan mengakibatkan degradasi kesuburan tanah akibat pemakaian pupuk kimia yang berkepanjangan. Persoalan ini juga perlu dibenahi.

“Sedapat mungkin diganti pupuk dan pestisida organik yang lebih ramah lingkungan dan dapat dibuat sendiri oleh petani,” katanya.

Lebih jauh, Joko menyarankan agar pemberian subsidi oleh pemerintah sebaiknya tidak untuk sarana produksi, tetapi diberikan kepada petani berdasarkan hasil produksi. “Dengan cara seperti ini, petani akan selalu berusaha untuk lebih kreatif dan berinovasi meningkatkan produksinya,” ucapnya.

Sumber : Sinar Harapan