J-Force: Sinergi Kementan-Kemendag Mampu Amankan Stok dan Harga Pangan

Mediatani.com – Babak baru pemerintahan Jokowi-JK di bidang pertanian dinilai akan membeik. Koordinator Jokowi Force (J-Force), Asrul Herman beranggapan sinerginya Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) hasil reshufle kabinet jilid 2 akan mampu mengamankan stok dan stabilitas harga pangan.

Koorinator Jokowi Force (J-Force) yang merupakan relawan pemenangan tersebut memandang kerjasama yang terlihat memberi harapan baru dalam stabilitas pangan nasional. Hal tersebut terlihat saat Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Menteri Perdagangan Enggartiato Lukito telah melakukan rapat koordinasi pangan dan sama-sama turun ke lapangan melakukan panen dan mengecek stok pangan.

“Sinerginya Kementan dengan Kemendag ini kunci utama untuk menyelesaikan carut marut pangan dan anomali pasar saat produksi melimpah,” kata Koordinator Nasional J-Force, Asrul Herman di Jakarta, Kamis (18/8).

Asrul menerangkan bahwa stok dan harga pangan selalu bermasalah di tengah produksi melimpah. Kondisi tersebut terjadi karena Kementan dan Kemendag bekerja sendiri-sendiri dengan egoisme sektoral. Kementan memiliki tugas pada upaya peningkatan produksi pangan atau dengan kata lain berurusan dengan petani.

“Sementara Kemendag memiliki tugas pada terjaminnya stok dan harga pangan di pasar atau dengan kata lain berurusan dengan konglomerat,” jelasnya.

Untuk itu, menurut Asrul, sinergi dua lembaga ini penting untuk mewujudkan kedaulatan pangan, daya saing pangan, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Sebab dengan adanya sinergi ini harus memberantas praktel nakal oktum-oknum tertentu yang melakulan kartel pangan sehingga terjadi disparitas harga yang cukup jauh antara harga beli di petani yang rendah dengan harga jual di pasar yang sangat tinggi.

“Dengan begitu, sinergi ini akan menjamin harga jual komoditas pangan yang diproduksi petani agar tidak turun saat panen. Sedangkan pedagang tidak mengambil untung banyak atau merugi ketika menjual komoditas pangan dari petani dengan harga terjangkau,” ujarnya.

Asrul menambahkan, Sinergi Kementan dan Kemendag harus mengembalikan fungsi Bulog sebagai pengendali stok dan stabilisator harga pangan. Bulog bukan sebagai lembaga pangan yang mengedepankan fungsi komersial dengan memasang jaring laba-laba untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.

“Tapi Bulog harus terjun langsung membeli atau menyerap hasil pertanian di petani sehingga petani mendapat jaminan harga jual dan harga jual pangan di pasar tetap murah,” tegasnya.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kementan, Suwandi menyampaikan Kementan dan Kemendag telah menyepakati berbagai aksi nyata untuk mengendalikan harga pangan strategis. Salah satunya bersepakat untuk memperpendek rantai pasok pangan dari daerah sentra produksi ke konsumen.

“Caranya yaitu dengan mengoptimalkan peran Bulog untuk menyerap langsung semua komoditas pangan yang ada di petani,” katanya.

Untuk itu, Suwandi menambahkan Kementan dan Kemendag saat ini tengah menggodok harga beli di tingkat petani dan harga jual ke konsumen oleh Bulog. Petani dan pedagang harus sama-sama mendapatkan keuntungan, sehingga tidak terjadi disparitas harga dan anomali pasar yang menyebabkan harga pangan melonjak saat produksi melimpah.

Adapun 14 komoditas pangan yang akan diatur dalam kesepakatan sinergi Kementan dan Kemendag yaitu beras, kedelai, cabai, bawang merah, gula, minyak goreng, tepung terigu, daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, serta ikan segar dalam hal ini bandeng, ikan kembung, dan tongkol/tuna/cakalang. Namun saat ini baru empat komoditas yang secara langsung telah ditetapkan dengan aturan yang disepakati yakni beras, gula, bawang merah, dan daging sapi.

/ABI