Kabupaten Garut Merugi Rp 40 Miliar Di Sektor Pertanian

MediaTani.com – Musim kemarau berkepanjangan di Kabupaten Garut mengakibatkan jumlah lahan kekeringan semakin hari semakin bertambah, akibatnya jumlah kerugian material akibat kemarau tersebut, hingga kini sudah mencapai Rp 40 miliar.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut, Tatang Hidayat, mengatakan saat ini luas lahan pertanian yang mengalami kekeringan mencapai 3.067 hektare, Dari total luas sebanyak itu, sekitar 1.067 hektare di antaranya mengalami puso atau gagal panen.

“Sementara 2.000 ha sisanya mengalami kekeringan dengan intensitas ringan, sedang, dan berat. bahkan diperkirakan, jumlah lahan yang kekeringan serta nilai kerugian akan terus bertambah,” katanya saat diwawancarai pada Selasa (25/8/2015).

Tatang menjelaskan hal ini dikarenakan berdasarkan perkiraaan, hujan baru akan turun sekitar bulan November mendatang. Dengan begitu dia berharap dampak kekeringan ini tidak seperti yang terjadi pada tahun 2003-2004 silam yang pada saat itu lahan pertanian seluas 4.000 hektare di Kabupaten Garut kekeringan.

“Musim kemarau ini menyebabkan saluran irigasi desa dan sawah tadah hujan kekurangan air. Sampai 24 Agustus 2015, sebanyak 3.067 hektare lahan pertanian mengalami kekeringan. Sebanyak 1.067 hektare di antaranya puso atau gagal panen,” ujar Tatang.

Tatang juga memaparkan kerugian akibat kekeringan saat ini mencapai 10 ribu ton padi. Penghitungan kerugian ini menunjukkan dampak yang cukup serius akibat kemarau. Namun menurutnya angka ini tidak sampai mengganggu angka sasaran produksi karena dampak kekeringan ini baru mempengaruhi 1 persen dari target produksi tahun ini.

“Kabupaten Garut memproduksi sekitar 1 juta ton gabah kering giling. Dari angka gabah kering giling yang diproduksi tahun lalu, dihasilkan sekitar 670 ribu ton beras,” katanya.

2,5 juta warga Kabupaten Garut, kata dia, hanya membutuhkan 370 ribu ton beras per tahun. Jadi, Kabupaten Garut surplus beras sekitar 300 ribu ton. Beras ini dijual keluar Kabupaten Garut.

“Jika warga Kabupaten Garut tetap mempertahankan produktivitas beras sampai saat ini sedangkan jumlah penduduk tetap bertambah, maka Kabupaten Garut diperkirakan masih surplus beras sampai 15 tahun ke depan,” ucap Tatang.

Menurut Tatang, ancaman nyata bagi produksi beras di Kabupaten Garut adalah penyempitan lahan pertanian. Dalam 10 tahun terakhir, Kabupaten Garut kehilangan 4.500 hektare sawah karena dijadikan perumahan.

Sebelumnya, Kepala Seksi pada Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas TPH Kabupaten Garut Endang Junaedi, mengatakan kekeringan ini terjadi di 40 kecamatan dari 42 kecamatan di Garut. Daerah terdampak tersebar baik di wilayah utara, tengah, dan selatan.

Di wilayah Utara, kekeringan melanda Kecamatan Leuwigoong, Cibatu, Cibiuk, Di wilayah tengah misalnya di Karangpawitan, Wanaraja, Sementara di wilayah selatan misalnya Mekarmukti, Cisompet, Caringin, Peundeuy, Bungbulang, Pameungpeuk.