Kebijakan Green Campus IPB Menuai Pro Kontra

MediaTani.com – Kebijakan Green Campus Institut Pertanian Bogor (IPB) menuai pro dan kontra di kalangan civitas IPB baik dari mahasiswa maupun dari staf pegawai. Dalam menanggapi kebijakan tersebut mahasiswa telah melakukan berbagai aktivitas diskusi-diskusi di internal mahasiswa maupun dengan beberapa pakar terkait.

“Secara konsep kami setuju dengan adanya Green Campus ini, namun yang kami kritisi ialah pelaksanaannya yang masih memberatkan bagi mahasiswa” ungkap Abdulloh selaku Menteri kebijakan kampus Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) IPB dalam aktivitas diskusi mahasiswa 15 september 2015 lalu. Ia menilai kebijakan green campus ini masih terlalu tergesa-gesa sehingga mahasiswa masih banyak yang belum begitu memahami mengenai isu ini. “Selain itu mekanisme penggunaan mobil listrik dan bus kampus biogas dilakukan penarikan tarif terhadap mahasiswa itu akan sangat memberatkan kami” tambahnya dalam sesi diskusi tersebut.

Dekan Fakultas kehutanan Dr. Ir. Rinekso Soekmadi, M.Sc.F Trop menjelaskan dalam forum diskusi bersama mahasiswa ini bahwasanya konsep green campus sebenarnya sudah lama telahdiusulkan, namun baru tahun 2015 ini bisa diimplementasikan oleh IPB. Dalam diskusi tersebut audiens sempat ada yang menyinggung dan menanyakan mengenai langkah-langkah dan indikator untuk menuju green campus mulai dari penyusunan masterplan green campus hingga aksi pelaksanaannya. Rinekso mengungkapkan bahwasanya ternyata masterplan green campus ini belum dibuat. Abdulloh menambahkan informasi terakhir yang ia dapat dari pihak rektorat ternyata masterplan green campus baru disusun.

Rektor IPB menjelaskan dan memaparkan terkait solusi beserta alasan penarikan tarif mobil listrik dan bus biogas kepada mahasiswa dalam audiensi mahasiswa bersama rektor yang dilakukan pada 17 september 2015 malam bahwa penarikan retribusi ini digunakan untuk menutup biaya operasionalnya saja. “Tidak ada unsur bisnis dalam pelaksanaan green campus ini, tarif ini hanya untuk menutup biaya operasional saja. Kami lebih menyarankan kalian (mahasiswa-red) untuk menggunakan sepeda saja”.

“Dalam audiensi tersebut rektor sama sekali tidak menyinggung bagaimana langkah-langkah dalam implementasi green campus. Tidak membahas mengenai masterplan pembangunan green campus, apalagi berbicara mengenai dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) terkait pembangunan green campus ini”. Ungkap Asyief salah seorang mahasiswa pascasarjana IPB yang juga turut memperhatikan perkembangan isu green campus ini.

Aksi lain yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa yang merasa peduli terhadap nasib kampus tergabung dalam Posko IPBerduka melakukan Aksi turun ke lapang. Aksi yang dilakukan ialah penyadartahuan civitas IPB dengan pembagian flyer pada tanggal 21 September 2015 lalu yang berisikan definisi singkat, indikator, dan langkah-langkah untuk menjadi green campus yang disarikan dari buku panduan green campus berjudul Greening University Toolkit yang diterbitkan oleh UNEP (United Nation Environmental Project) pada tahun 2013.

Mahyudin mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB sebagai koordinator aksi menjelaskan dalam kalimatnya“mahasiswa dan para pembuat kebijakan perlu adanya penyelarasan berpikir mengenai green campus yang sesungguhnya. Langkah-langkah dalam implementasi green campus ini jangan sampai memberatkan pihak-pihak yang terkait, karena hal ini mengenai hajat hidup bersama di lingkup IPB. Mahasiswa perlu memahami apa itu green campus dan bagaimana langkah-langkah untuk mengimplementasikannya. Sejauh ini yang kami amati IPB belum melakukan kajian terhadap master plan green campus, tetapi sudah melakukan uji coba mobil listrik dan bus biogas. Kesalahan bertindak ini yang perlu dibenahi oleh pembuat kebijakan ini”.

Hingga saat ini isu green campus juga masih hangat diperdebatkan di lingkup civitas IPB. Salah seorang personel anggota Unit Keamanan Kampus (UKK) -yang tidak berkenan namanya disebutkan di media- juga menyatakan keberatan. Ia mengungkapkan “kebijakan green campus ini berimbas pada tugas kami dalam menjalankan tugas keamanan. Selama ini kami sudah melakukan tugas dengan cukup baik dan profesional, terutama penjagaan terhadap kendaraan bermotor milik civitas IPB. Bila kebijakan ini akan dilanjutkan, maka parkit kendaraan bermotor hanya dipusatkan di beberapa titik. Semua personel UKK akan ditarik untuk pengamanan gedung saja, sementara parkiran akan dipegang penuh oleh badan usaha di luar IPB yang ditunjuk oleh IPB untuk melakukan penarikan retribusi parkir di dalam kampus IPB. Kami keberatan karena kami merasa memiliki tanggung jawab terhadap keamanan kendaraan tersebut selama masih di dalam kampus, akan tetapi bila kami semua ditarik ke gedung maka kami tidak bisa ikut mengontrol keamanan kendaraan milik civitas IPB.” Ia pun menambahkan dalam komentarnya “kami juga kawatir nantinya bila semua ditarik ke gedung maka personel kami dianggap terlalu banyak untuk mengamankan gedung, dan beberapa dari kami harus disingkirkan”.

Lain lagi pendapat pedagang makanan dan minuman yang berlokasi di kantin-kantin dalam kampus IPB. Cak sono (nama panggilan) salah seorang pedagang di kantin Tenda Merah mengungkapkan bahwa dirinya tidak mengetahui mengenai isu green campus ini. Yang ia tahu hanya akan ada perombakan mengenai sistem pembayaran di dalam kampus, tapi ia belum mendapat keterangan lebih lanjut mengenai hal tersebut. “kami tidak memahami isu itu (green campus-red), yang kami tahu nantinya mulai bulan depan kami tidak diperkenankan parkir di sini (menunjuk parkiran yang berada di depan kantin tempatnya bekerja) dan katanya bakal ada perubahan sistem pembayaran di kantin-kantin kampus cuma belum tahu kapan dan dirubah kayak gimana” pungkasnya. (MAK)