Kisah Jatuh Bangun Petani Kentang Yang Kini Jadi Miliarder

Mediatani.com – Salah seorang petani Inggris kini jadi miliarder. Ia termasuk petani yang terkaya di Inggris saat ini. William Chase, seorang petani kentang yang kini mencapai kesuksesan di jajaran orang sukses. Selama ini, Chase rajin melakukan publikasi untuk mengenalkan bisnisnya.

Namun perjalanannya meraih semua itu dengan kerja keras dan jatuh bangun namun itu memberinya pengalaman dan talenta. Talenta ini yang membuatnya bangkit dari kebangkrutan di usia 32 tahun. Kini, Chase sukses menjadi seorang miliarder di usia 48 tahun.

Chase mencoba peruntungan berbisnis keripik kentang kelas premium dengan merek Tyrrells dan menjualnya ke Tesco, salah satu supermarket besar di negaranya dan berhasil meraup keuntungan besar.

Saat ini, ketika umurnya menginjak usia 56 tahun, Chase berhasil menjadi pemilik Chase Vodka, yang bahan bakunya berasal dari kentang yang tumbuh dari lahan miliknya.

“Media sangat penting bagi saya dalam mempromosikan Tyrrells. (Produk) saya mengalahkan (produk) supermarket,” katanya, seperti dilansir BBC, Kamis (11/2/2016) dikutip dari detik.com.

Chase merupakan anak petani kentang yang tinggal di dekat kota Herefordshire, Leominster, Inggris. Chase membeli peternakan dari keluarga ayahnya, ketika ia berusia 20 tahun. Saat itu, Chase mendapatkan pinjaman bank sebesar 200.000 poundsterling.

Harga kentang cukup fluktuatif, hal ini membuat bisnis kentang juga diperkirakan akan naik-turun dalam 12 tahun ke depan.

Pernah Bangkrut

Di tahun 1992 silam, saat itu musim hujan hingga membuat kentang milik Chase tidak bisa panen dan membusuk di ladang. Karena itu, bisnis Chase ambruk. Ia terpaksa mengajukan kebangkrutan. “Saya sangat malu dan malu,” katanya.

Setelah ‘melarikan diri’ ke Australia selama beberapa bulan, ia kembali ke Herefordshire, dan berhasil meminjam dana untuk membeli kembali peternakan dan memulai bisnis lagi.
Kali ini, untuk bisa mendapatkan uang banyak, Chase memutuskan menjadi pedagang kentang.

Membeli kentang dari sejumlah peternakan dan menjualnya ke supermarket.
Namun, Chase nyaris frustasi karena supermarket menolak kentang-kentang yang kualitasnya tidak bagus.

“Saya mengirim 10 kentang setiap hari, dan 5 dari 10 kentang itu dikembalikan. Ini sangat menyakitkan, bagaimana supermarket memperlakukan kami para petani,” ucap dia.

Di tahun 2002, hidup Chase berubah. Ia mengetahui bahwa kentang-kentang yang dulu ditolak oleh supermarket alias barang reject, diminati oleh produsen keripik di AS, Kettle.

Kettle merupakan salah satu perusahaan yang memproduksi keripik kentang kelas premium, yang irisan kentangnya lebih tebal dibandingkan dengan keripik kentang lainnya.

Meskipun tidak memiliki pengalaman sebagai pembuat keripik, namun Chase meyakini akan mampu membuat keripik kentang kelas premium.

Chase kemudian kembali ke Inggris, ia membangun sebuah fasilitas pembuatan keripik kentang di peternakan milik keluarganya, dan fasilitas tersebut dinamai Tyrrells dan berjalan enam bulan kemudian.

Untuk mempromosikan produknya, Chase melakukan publikasi dengan mengunjungi toko-toko makanan di Inggris dan memberikan sampel keripik miliknya.

“Saya jual keripik Tyrrells 1 poundsterling satu bungkus dan bisa dijual lagi 2 poundsterling,” ucap Chase.

Supermarket seperti Waitrose juga mulai mengikuti jejak Chase. Di tahun 2006, ternyata Tesco menjual keripik Tyrrells di bawah harga eceran yang disarankan.

Chase sebagai pemilik merek keripik Tyrrells marah dan menuntut Tesco untuk menghentikan penjualan keripik miliknya. Penjualan keripik Tyrrells terus tumbuh selama beberapa tahun terakhir, dan Chase mampu meraup omzet hingga 14 juta poundsterling per tahun atau sekitar Rp 266 miliar. Chase mencoba meminjam uang di perbankan untuk memperluas bisnisnya.

Merasa belum puas dengan bisnis Tyrrells, Chase yang merupakan pemegang saham tunggal di perusahaan kentang tersebut, memutuskan menjual kepemilikannya di tahun 2008 untuk modal bisnis dan mendapatkan 40 miliar poundsterling dari penjualannya tersebut.

Chase kemudian membentuk bisnis baru. Chase mencoba peruntungan bisnis lain, yaitu mengubah kentang menjadi vodka kelas premium.

Chase membeli sebuah sistem distilasi, dari situlah bisnis vodka Chase lahir. Vodka milik Chase dihargai 35 poundsterling per botol.

Kendati demikian, Chase mengakui bisnis vodka tidak lebih menguntungkan ketimbang bisnis keripik kentang. Namun, Chase telah banyak mempekerjakan karyawan. Chase fokus untuk mengekspor produknya. Ia banyak menghabiskan waktu untuk keliling dunia demi membangun bisnisnya.

Selain vodka, Chase juga memproduksi gin dan wiski dan mampu terjual 10.000 botol seminggu.

/IA/CCK/