Lagi. Warga Demo IPB Soal Green Campus

Mediatani.com – Bogor, Jabar. Ratusan warga lingkar kampus IPB Dramaga yang menggabungkan diri sebagai Koalisi Masyarakat Desa Lingkar Kampus IPB kembali menggelar aksi unjuk rasa. Aksi kali ini dilakukan di depan kampus IPB Dramaga siang tadi (Kamis, 31 Maret 2016). Warga sendiri menggelar aksi untuk menuntut keadilan yang dirasa telah banyak digagahi dengan kebijakan-kebijakan kampus IPB khususnya kebijakan mengenai Green Campus.

Warga merasa kecewa dengan Rektor IPB yang memberikan kebijakan Green Campus yang dirasa tidak ramah terhadap masyarakat. Mereka sangat menyayangkan kebijakan yang dikeluarkan oleh Rektor ini justru mempersulit warga dalam mengakses kampus, terutama untuk mencari nafkah melalui berbagai profesi yang selama ini mereka jalani di dalam kampus. Salah satu profesi yang cukup terganggu dengan kebijakan ini yakni penyedia jasa transportasi di dalam kampus.

Ato Subagyo selaku koordinator aksi menuntut pihak IPB untuk mengembalikan keadaan seperti semula dengan tidak mengusik kehidupan warga dalam mencari nafkah.

“Jangan masyarakat dijadikan bahan percobaan, atau dijadikan bahan binaan saja. Harga diri kami diinjak-injak. Kedaulatan kami sebagai warga negara Indonesia sama. Inilah bentuk aspirasi kami” tutur Ato dalam orasinya di depan gerbang kampus.

Aksi yang dimulai pukul 13.00 WIB ini berlangsung cukup lama. Beberapa masa aksi yang sudah panas pun sempat akan merangsek masuk ke dalam kampus. Tetapi aksi tersebut masih bisa dikendalikan. Ato selaku koordinator aksi mengatakan bahwa aksi kali ini harus damai, karena aksi yang dilakukannya ialah bentuk perjuangan untuk bisa memperjuangkan hak-hak mereka.

“Kami tidak takut mati. Karena kami memperjuangkan hak asasi kami sebagai manusia.” Seru ato dalam orasinya sekaligus dalam mengontrol masa.

Masa aksi pun kembali tertib dan sempat menyanyikan lagu wajib Indonesia raya sebagai bentuk tulusnya aksi yang mereka atas nama keadilan.

Selain menyanyikan lagu wajib, warga juga sempat membacakan beberapa ayat suci alqur’an untuk mendamaikan suasana, dan masa aksi memilih untuk khidmad mendengarkan sambil duduk dan menunduk di atas jalanan.

Setelah pembacaan ayat suci alqur’an itu, masa kembali bangkit berdiri untuk menyerukan aspirasi mereka.

“Kami menuntut hanya numpang usaha. Buka portal-portal.” Lanjut Ato dalam orasi lanjutannya.

Perwakilan dari masa aksi sempat diundang untuk mediasi dengan pihak kampus. Namun sangat disayangkan pihak kampus tidak menghadirkan rektor IPB untuk menemui mereka.

“Saat ini bapak rektor sudah ada jadwal agenda, jadi tidak bisa menemui bapak-bapak sekalian, sekarang yang mau menemui dari humas IPB” ungkap Syaifuddin Gayo, Kapolsek Dramaga yang mengawal aksi dan mediasi kali ini.

Perwakilan warga tersebut pun merasa dikecewakan lagi dengan tidak hadirnya rektor. Padahal sekitar lima menit sebelumnya rektor sempat lewat di hadapan perwakilan warga untuk menuju ruangannya. Warga yang sedang menunggu di depan media center rektorat (ruangan untuk mediasi aksi kali ini) pun merasa sangat dikecewakan.

Perwakilan masyarakat tersebut pun menolak untuk menemui humas IPB tersebut dan bersikukuh untuk menemui rektor. Mereka lebih memilih untuk kembali ke masa aksi dan menyatakan akan ada aksi lanjutan lagi.

“Kami sudah empat kali untuk mediasi. Dan kondisinya masih sama seperti ini.” Ucap Ato kepada pihak IPB.

Pihak IPB yang saat itu tidak bisa menghadirkan rektor harus menerima keputusan warga tersebut. Sebelum perwakilan masyarakat meninggalkan ruangan, mereka sempat menyatakan sikap untuk tetap bersikukuh menemui rektor.

“Kami koalisi masyarakat desa lingkar kampus menyatakan tidak mau menemui orang lain selain rektor.” Tutup Ato dalam pernyataan sikapnya di hadapan media.

/MAK