Legislator Soroti Banyaknya Petani Korban Kesewenangan Aparat

Mediatani.com – Banyaknya petani di daerah yang menjadi korban dari tindakan arogan dan sewenang-wenang aparat disoroti Anggota Komisi III DPR Marsiaman Saragih. DPR prihatin atas ‎kejadian tersebut.

Maka itu, aparat penegak hukum diminta untuk objektif dan transparan dalam memperkarakan para petani kecil di daerah. ‎Diketahui, sejumlah persoalan kini menimpa para petani kecil ditangkap polisi atas kasus dugaan pembakaran lahan.

Akan tetapi, setelah tak berhasil membuktikan pembakaran lahan, selanjutnya aparat mencari alat bukti lain yang berupa izin pengelolaan lahan. “Kita sangat prihatin dengan banyaknya pengaduan masyarakat yang dulunya dituduh membakar lahannya sendiri ternyata tak terbukti. Anehnya petani-petani kecil itu dituduh lagi mengelola lahan secara ilegal,” ujar Marsiaman Saragih di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (3/3/2016).

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini pun mengaku heran, mengapa para petani kecil selalu menjadi korban kesewenang-wenangan aparat di daerah.‎ Pemerintah pun diminta untuk turun tangan mengecek kasus yang kini dialami para petani kecil yang menjadi korban kesewenang-wenangan aparat di daerah.

Dia berpendapat, ‎para petani kecil yang hanya memiliki lahan satu atau dua hektare untuk bercocok tanam tak layak dikriminalkan.‎ Lambatnya pemerintah membentuk tim pemeriksa bersama atas kebakaran hutan selama ini pun disayangkannya.

Menurutnya, ‎sesuai undang-undang tim itu harus dibentuk dan berasal dari berbagai unsur, agar proses penyelidikan dapat berlangsung tranparan dan objektif.

“Jangan karena petani kecil itu tak memiliki beking, sehingga mereka dijerat dengan segala macam tuduhan. Apa rakyat kecil itu tak berhak hidup lagi di negeri ini. Kenapa pula perusahaan-perusahaan besar yang mengelola lahan jutaan hektare tak pernah disentuh (aparat hukum), apa mereka sudah benar semua?” cetusnya.

Marsiaman membeberkan, sejumlah petani kecil di sekitar lahan PT BMH Kabupaten Musi Banyuasin di Sumatera Selatan ditangkap polisi dengan tuduhan melakukan pembakaran lahan. Karena tidak terbukti melakukan pembakaran, selanjutnya penyidik berupaya menjerat petani dengan pelanggaran perizinan penggunaan lahan.

‎Para petani kecil itu bahkan kini harus mendekam di penjara untuk menunggu persidangan di pengadilan setempat. Padahal, para petani tersebut mengaku bahwa sumber api masuk ke lahan mereka dari lahan perusahaan besar yang ada di lokasi lahan.

Dia menambahkan, proses hukum terhadap petani kecil itu harus menjadi perhatian penting bagi Kapolri Jenderal Badrodin Haiti dan Jaksa Agung M Prasetyo. Sebab, jangan sampai petani kecil yang tak bersalah menjadi korban kesewenang-wenangan aparat.

Dalam Surat Menteri Kehutanan Republik Indonesia yang ditandatangani Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan pada 21 Januari 2010 dengan SK No 54/Menhut-II/2010 itu telah ditetapkan kawasan hutan sebagai areal kerja hutan desa seluas 7.250 hektar di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Hal itu sesuai dengan Berita Acara hasil verifikasi penyelenggaraan hutan desa BA 294/BPS-3/2009 tanggal 21 November 2009. Selain itu Surat Dirjen Planologi No : S 1130/VII-WP3H/2009 tanggal 30 Desember 2009 tentang penyampaian Peta Areal Kerja Hutan Desa di Kabupaten Musi Banyuasin.

Kawasan Hutan Produksi seluas 7.250 hektar itu ditetapkan Kabupaten Musi Banyuasin sebagai Areal Kerja Hutan Desa. Areal Kerja Hutan Desa yang merupakan lahan gambut dengan ketebalan sedang 100-200 cm seluas 3.860 hektar agar dipertahankan sebagai kawasan lindung. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah yang tidak secara aslinya, seperti dapat memanfaatkan perikanan darat terbatas dan lestari.

Dalam pemberian hak pengelolaan hutan desa, dalam SK Menhut itu, Gubernur Sumatera Selatan perlu memperhatikan kesiapan lembaga desa calon penerima hak. Surat itu juga ditembuskan ke Mendagri dan Menteri Pertanian saat itu.

“Dari SK Menhut tersebut jelas para petani ini tidak menyalahi aturan mengelola lahan. Tapi kenapa mereka harus ditahan? Sama siapa lagi ratusan petani seperti ini mengadu? “pungkasnya.