Mentan Dorong Petani Produksi Beras Organik

Mediatani.com – Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mendorong petani untuk memproduksi beras organik agar meraup keuntungan 300 persen lebih tinggi dibandingkan memanen beras biasa.

“Beras biasa harganya Rp 8 ribu per kilogram tetapi yang jenis organik Rp 30 ribu per kilogram, artinya 300 persen lebih tinggi dan untuk itu Pasar Eropa lebih terbuka dengan organik,” kata Amran Sulaiman ketika menghadiri acara bertajuk ‘Bulan Mutu Pertanian 2015’ di Jakarta, Minggu (8/11).

Apabila melihat potensi beras organik, Amran menilai kualitas ekspor sektor pertanian akan lebih terbuka. Terlebih, beras kualitas premium tersebut dijual dengan harga yang lebih tinggi.

“Jika dihitung, beras organik berpotensi menghasilkan triliunan rupiah. Tentu saja, ini akan lebih menguntungkan petani,” tuturnya.
Kementerian Pertanian mencatat, produksi beras Indonesia rata-rata 45 juta ton per tahun, dengan tingkat kenaikan setiap tahunnya sekitar 1-2 juta ton. Apabila beras organik dikembangkan, kata Amran, maka harga jualnya berpotensi naik hingga Rp20 ribu per kilogram, sehingga keuntungan yang bisa diraup setiap tahunnya dari perdagangan beras mencapai sekitar Rp40 triliun per tahun.

Sebelumnya, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir juga mendorong penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) di sektor pertanian organik guna meningkatkan kesejahteraan petani. “Para petani akan sejahtera bila selalu menggunakan teknologi terbaru,” ujarnya.

Terkait penelitian, menurut Nasir, hasil-hasil riset yang dilakukan harus dimanfaatkan masyarakat, tidak hanya inovasi pada produk untuk nilai tambah, tetapi juga untuk menambah kualitas masyarakat. Semua riset yang ada di Perguruan Tinggi akan terus didorong untuk selalu dikembangkan ke arah inovasi.

Sementara untuk anggaran, ia mengatakan, saat ini komposisi anggaran penelitian dan pengembangan dari negara masih besar dibandingkan pihak swasta. Sementara di luar negeri industri yang lebih banyak mendukung penganggaran riset.

Selain mendorong pengembangan pertanian organik, ia juga memberi masukan agar produk pertanian dikemas dengan baik dan menarik sehingga meningkatkan nilai jual.

Kemudian, Kementerian Pertanian juga akan memaksimalkan penggunaan pupuk organik sebagai komposisi utama dalam menyuburkan tanaman bagi petani-petani daerah di Indonesia yang telah banyak menggunakan pupuk anorganik.

“Pemakaian pupuk anorganik di berbagai daerah sering berlebihan, namun fungsi dari pupuk organik jarang dimaksimalkan, padahal kita punya banyak sampah organik di Indonesia,” kata Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Sumarjo Gatot Irianto. (ags/Antara)