Mentan Pacu Modernisasi Pertanian

MediaTani.com – Menteri Pertanian, Dr. H. A. Amran Sulaiman, MP menegaskan untuk mendukung swasembada beras maka Indonesia sudah saatnya melakukan modernisasi pertanian dengan penggunaan alat dan mesin pertanian, seperti dilansir kantor berita Antara senin (7/9/2015).

Modernisasi pertanian merupakan sebuah keniscayaan dalam upaya efesiensi kerja usaha petanian khususnya budidaya padi. Langkah modernisasi akan meningkatkan produktifitas pertanian dan berujung pada kesejahteraan petani.

Mentan mengungkapkan, apabila usaha tani dilakukan dengan mekanisasi penuh, akan ada efisiensi waktu, biaya dan tenaga.

“Hitungan kami, biaya input akan hemat 30 sampai 40 persen dan produktifitas dapat ditingkatkan 10 sampai 20 persen,” tutur Andi Amran Sulaiman.

Demi mewujudkan program modernisasi pertanian tersebut, pihaknya akan mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo untuk penambahan pagu Kementan di APBN menjadi Rp45 triliun dari sebelumnya sebesar Rp30,1 triliun.

Arah moderniasi pertanian memang harus terus didorong mengingat munculnya industrialisasi di daerah pusat produksi padi, selain memberikan efek positif berupa penyerapan tenaga kerja, ternyata berdampak semakin berkurangnya tenaga kerja bidang pertanian.

Terlebih kaum muda lebih menyukai menjadi buruh pabrik dibanding terjun ke sawah. Selain lebih bergengsi, profesi buruh mempunyai pendapatan yang bisa harapkan setiap bulan, berbeda jika terjun ke pertanian yang mengandalkan pendapatan dari hasil panen.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja sektor pertanian tahun 2010 sampai 2013 minus 2,2 persen, artinya terus berkurang. Tahun 2010 tercatat 38,7 juta dan kemudian menurun di tahun 2013 menjadi 36,9 juta.

Saat ini di sejumlah daerah sentra produksi padi sudah mulai kesulitan untuk mencari tenaga pengolahan lahan, penanam bibit dan panen. Ketiga tahapan budi daya padi itu memerlukan tenaga dalam jumlah besar. Keterbatasan tenaga membuat penanaman serentak di satu hamparan menjadi sulit dilakukan, dan berakibat semakin sulit dilakukan pemberantasan hama secara serentak.

Salah cara untuk mengatasi hal itu, adalah dengan pola mekanisasi pertanian dari hulu sampai hulir, artinya mulai dari pengolahan lahan, penanaman bibit sampai panen.