Mentan: Premi Rp 30 Ribu Kok Mahal?

Mediatani.com – Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman angkat bicara mengenai pernyataan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) soal kurangnya minat petani membeli produk asuransi pertanian karena alasan premi yang mahal. Padahal pemerintah sudah jor-joran memberikan subsidi kepada para petani, termasuk premi asuransi pertanian.

“Premi Rp 30 ribu kok mahal? Cuma seberapa sih. Pemerintah kan sudah subsidi Rp 150 ribu. Mau diapain lagi? Mau gratis semua?,” kata Amran saat berbincang santai dengan wartawan di Jakarta, Minggu (21/2/2016).

Pada asuransi pertanian ini, pemerintah memberikan subsidi premi sebesar Rp 150 ribu dari total premi Rp 180 ribu per hektare (ha). Sedangkan petani hanya membayar sisanya sebesar 20 persen atau Rp 30 ribu. sementara plafon penjaminan dari asuransi pertanian sebesar Rp 6 juta.

“Kami sudah gratiskan traktor, irigasi, benih 3 juta ha. Kurang apa coba? Anggaran pertanian sudah dua kali lipat. Semua itu diberikan agar petani merasa saling memiliki, masa Rp 30 ribu masih dianggap mahal kan untuk jangka panjang,” dia menegaskan.

Amran menargetkan, asuransi pertanian dapat menjangkau satu juta ha lahan pertanian. Namun target tersebut diharapkan tidak terserap semua, yang artinya pemerintah berkeinginan semua lahan sawah aman, tanpa harus rusak akibat banjir, hama, dan masalah lainnya.

“Kami siapkan untuk satu juta ha, tapi berdoa jangan terpakai semua. Paling terpakai 10-20 persen. Kami akan terus mensosialisasikan asuransi pertanian, karena apa ada asuransi pertanian sejak 70 tahun lalu? Belum ada kan, makanya kalau sudah satu juta ha, petani bisa tenang,” tegas dia.

Ketua Umum AAUI Yasril Y Rasyid sebelumnya mengakui, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) sebagai pengelola program asuransi pertanian sudah mulai mengimplementasikan program ini ke petani.

Sayangnya, para petani masih enggan membeli produk tersebut meskipun punya segudang manfaat terutama sebagai ganti rugi ketika gagal panen. “Petaninya masih susah. Padahal sudah diberikan subsidi premi 80 persen dari pemerintah dari Rp 180 ribu per hektare (ha),” ujar Yasril.

Kebanyakan petani masih enggan ikut serta dalam program asuransi pertanian ini. “Bayar 20 persen buat mereka masih kemahalan, keberatan. Apalagi plafon penjaminannya Rp 6 juta, dinilai masih kurang. Itu paling cuma biaya bibit atau pupuk. Tapi setidaknya uang ganti rugi ini bisa membantu mereka menanam kembali sawah yang rusak akibat banjir,” Yasril menjelaskan.

Saat ini, dia mengakui, anggota AAUI belum terlibat aktif dalam program asuransi pertanian. Pengelolaan asuransi ini masih dipercayakan kepada Jasindo, perusahaan asuransi pelat merah.

“Kalau nanti kita sudah terlibat lebih luas, maka kita akan bantu sosialisasinya supaya minat petani ikut serta dalam asuransi pertanian meningkat,” tandas dia.