Mentan Punya Cara Baru Hadapi Anomali Iklim

Mediatani.com – Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman yang diwakili Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Inovasi Teknologi Pertanian, Mat Syukur menghadiri seminar nasional dengan tema Teknologi Pemupukan dan Strategi untuk Mengatasi Anomali Iklim di Perkebunan yang digelar Riset Perkebunan Nusantara (RPN) di Bali, Kamis (31/3/2016).

Hadir dalam seminar nasional ini yakni Direktur Umum Riset Perkebuna Nusantara, Teguh Wahyudi, Mantan Dirjen Perkebunan, Ahmad Manggabarani, Deputi Pemberdayaan Prasarana dan Sarana Petani, Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit, Deri Ridarif dan dihadiri 300 orang peserta yang terdiri dari para petani perkebunan, pelaku usaha, akademisi dan lembaga riset serta stekholder perkebunan.

Dalam sambutannya, Amran menyampaikan seminar nasional ini sangat penting untuk meningkatkan peran penting perkebunan nasional di tengah isu perubahan iklim global, isu lingkungan dan meningkatnya tuntutan efisiensi pemanfaatan sumber daya alam berkelanjutan serta ramah lingkungan.

Menurut Amran, perkebunan telah memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap perekonomian nasional. Hal ini ditunjukkan dengan devisa perkebunan tahun 2014 mencapai 321 triliun atau sekitar 15 persen dari APBN 2014. Perkebunan juga telah terbukti mendorong perkembangan ekonomi wilayah di beberapa lokasi yang berbasis ekonomi perkebunan.

“Disamping itu, perkebunan juga mampu menyerap mencapai 22,7 juta tenaga kerja di sektor on farm,” jelas Amran dalam sambutannya yang disampaikan Mat Syukur pada acara seminar nasional.

“Kedepan, kita bukan hanya ingin menjadi salah satu negara penghasil komoditi perkebunan utama dunia, namun kita juga ingin mewujudkan perkebunan sebagai sumber kesejahteraan petani dan kekuatan ekonomi negara,” tegas Amran.

Berkaitan dengan mengatasi anomali iklim di perkebunan, Amran berharap agar di seminar nasional ini yakni, pertama, dapat menemukan adanya solusi teknologi yang tepat untuk adaptasi dan mitigasi pada sub sektor perkebunan sebagai antisipasi perubahan iklim.

“Kedua, teknologi peningkatan produktivitas perkebunan, terutama penggunaan benih unggul yang toleran terhadap cekaman perubahan iklim serta aplikasi dan penggunaan pupuk yang ramah lingkungan.

Ketiga, jelas Amran, perlunya optimasi pemanfaatan lahan perkebunan dengan integrasi tanaman pangan dan ternak.

“Rakitan teknologi ini selain akan tetap mempertahankan kinerja perkebunan sekaligus dukungan perkebunan dalam upaya swasembada pangan dan daging,” terang Amran.

Sementara itu, Direktur Umum RPN, Teguh Wahyudi menyampaikan alternatif strategi pengembangan komoditi perkebunan yakni melalui peningkatan produktivitas dengan menerapkan berbagai ivonasi teknologi, perbaikan mutu bahan baku dan diversifikasi produk setengah jadi dan pengembangan berbagai produk atau industri hilir untuk meningkatkan permintaan di pasar domestik.

“Khusus komoditi karet, sawit, kopi, the, dan gula perlu dilakukan tambahan tindakan berupa efisiensi biaya dan divervisikasi usaha,” jelas Teguh saat menyampaikan sambutan pada seminar nasional.

Kepala Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, RPN, Misnawi menambahkan saat ini telah ada bibit kopi dan kakao super yang dihasilkan dari induksi akar, sehingga memiliki akar yang banyak.

“Keunggulan bibit kopi dan kakao super tersebut tahan akan kekeringan dan mampu menyerap air walaupun air terbatas, sehingga menjadi salah satu jawaban untuk menghadapi kekeringan panjang,” tutur Miskawi.