Mentan: Stok Beras Nasional Aman Hingga Ramadhan

MediaTani – Pemerintah menjamin ketersediaan pangan, khususnya beras, aman menjelang Ramadan dan hari Raya Idul Fitri. Kenaikan harga pangan diperkirakan akan terjadi tapi hanya sesaat.

”Stok pangan khususnya beras aman, produksi kita Januari hingga April 2015 itu (sebanyak) 32 juta ton,” ujar Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman ketika menjadi tamu redaksi MNC Group Jakarta kemarin. Dia mengatakan, produksi beras pada periode Januari- April 2015 sebanyak 32 juta ton. Jika dibagi per bulan, rata-rata memenuhi kebutuhan enam hingga tujuh bulan ke depan, termasuk menutupi kebutuhan masa Ramadan hingga setelah hari raya Idul Fitri 1436 Hijriah.

”Jadi tidak perlu khawatir, karena stok yang ada bisa menutupi enam hingga tujuh bulan ke depan atau sampai Lebaran,” katanya. Terkait produksi, Amran optimistis akhir tahun ini tercapai surplus produksi beras berkat Program Khusus untuk Swasembada Pangan Berkelanjutan (UPSUS). Mentan menjelaskan bahwa dalam lima bulan pelaksanaan UPSUS berhasil mendorong petani meningkatkan produksi pangan yang diperoleh melalui percepatan waktu tanam, peningkatan produktivitas pertanaman, penggunaan irigasi efektif dan efisien, peningkatan penggunaan alat dan mesin pertanian, serta peningkatan indeks pertanaman.

Amran menyatakan pentingnya pencapaian swasembada pangan berkelanjutan sebagai strategi utama untuk menjamin ketahanan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia. Dia menetapkan target surplus beras dan swasembada jagung akan terwujud tiga tahun masa jabatannya kendati target tersebut tidak mudah tercapai.

Dia lalu menyebut beberapa kendala, antara lain tingginya konversi dan fragmentasi lahan pertanian, kerusakan saluran irigasi, penurunan jumlah petani, kehilangan hasil pascapanen, pasokan pupuk dan benih, terbatasnya sumber pembiayaan, dan tidak stabilnya harga produk pertanian selama musim panen. Selain itu, produksi padi selama ini juga diganggu dengan adanya gagal panen (puso) yang tiap tahun rata-rata mencapai 28.000 hektare (ha). Salah satu penyebab puso adalah kekeringan.

”Total tanaman padi yang terkena kekeringan tiap tahun rata-rata mencapai 200.000 ha, dan yang puso sekitar 28.000 ha dari total luas tanam 13,9 juta ha. Jadi (tanaman yang puso) itu kecil sekali dibandingkan luas tanam,” katanya. Namun, Kementerian Pertanian tetap berusaha menekan luas tanam yang berpotensi mengalami gagal panen tersebut. Di antaranya, dengan memberikan pompa air secara gratis kepada petani.

”Tahun ini kita siapkan 20.000 unit pompa air yang kita sebar di 96 kabupaten di seluruh Indonesia,” tukas Mentan. Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengatakan, produksi pada musim penghujan (rendeng) memang menggembirakan. Meski demikian. pemerintah harus mencermati musim kemarau (gadu) ini. Produksi di musim gadu sangat dipengaruhi oleh iklim.

Apalagi, sebagaimana ramalan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), mulai Juni hingga Oktober mendatang terjadi kemarau yang el nino di selatan garis khatulistiwa. Winarno memaparkan, salah satu dampak dari El Nino adalah sawah yang akan kekeringan makin luas.

”Kemarau selama lima bulan itu lama. Saat ini saja di Indramayu ada sekitar 4.800 ha yang mulai kekeringan. Saya perkirakan sawah yang kekeringan akan lebih luas jika dibandingkan tahun lalu,” kata Winarno ketika dihubungi KORAN SINDO kemarin. Demi meminimalisasi gagal panen akibat kekeringan, Winarno meminta pemerintah memberikan pompa air kepada para petani. Terutama, kepada petani yang lahannya dekat dengan sumber air.

”Selain itu, kami minta agar asuransi pertanian ini direalisasikan. Memang asuransi pertanian ini sudah disetujui DPR, tapi belum bisa direalisasikan karena masih ada problem di Kementerian Keuangan,” sebut Winarno.