Menteri Pertanian Akan Kosongkan Anggaran Untuk 11 Daerah

MediaTani.com – Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. H. Andi Amran Sulaiman mengancam akan mengosongkan anggaran bantuan pertanian untuk 11 daerah di Sumatera Barat (Sumbar) yang tidak mampu meningkatkan produksi padi lima persen setiap tahunnya.

Di Sumbar sendiri, hanya ada delapan daerah Kabupaten/Kota yang berhasil meningkatkan produksi padi di atas lima persen seperti Kabupaten Pasaman, Pasaman Barat, Agam, Dharmasraya, Pesisir Selatan, Kepulauan Mentawai, Kota Bukittinggi, dan Kota Solok.

”Untuk Kabupaten yang di bawah target, insya Allah tahun depan anggarannya akan kami nolkan. Ini sudah sesuai dengan komitmen, dan anggaran tersebut akan dialihkan kepada daerah yang telah mencapai target di atas lima persen,” tegas Amran saat mem­buka acara Gelar Pangan Nasional 2015 di Tarandam, Padang.

Dikatakan Amran, dibanding­kan dengan tahun lalu anggaran pertanian secara nasional naik 100 persen lebih tahun 2015. Untuk Sumatera Barat, anggaran bantuan Kementerian Pertanian pada tahun 2014 hanya Rp342 miliar, naik sekira 19 persen menjadi Rp751 miliar.

“Kepada Bupati yang berhasil menaikkan produksi beras di atas lima persen, terima kasih. Untuk anggaran pertaniannya minimal sama dengan tahun lalu,” ujar pria kelahiran Bone tersebut.

Dalam mewujudkan swasembada beras, kata Amran, terdapat lima permasalahan mendasar, diantaranya distribusi pupuk yang lambat, benih yang terlambat masuk, kerusakan irigasi, kekura­ngan tenaga penyuluh, hingga kurangnya alat produksi pertanian.

“Hampir di seluruh daerah dulu mengeluhkan distribusi pupuk, sekarang keluhan sudah berkurang, oknum pengoplos pupuk sudah kita tangkap, ada sekira 40 orang pelakunya,” terang Amran.

Begitu juga dengan irigasi seluas 33 juta hektare yang rusak, sekitar 2,6 juta hektare telah diperbaiki. Sementara untuk kekurangan tenaga penyuluh diisi oleh perbantuan dari babinsa TNI.

“Alat pertanian sudah kita kirim ke daerah yang jumlahnya saat ini mencapai 60 ribu unit. Tinggal lagi keseriusan daerah dan petani untuk mengubah mindset dalam bertani,” pintanya.

Menanggapi adanya 11 daerah di Sumbar yang terancam tanpa bantuan pertanian di tahun depan ditanggapi serius oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Sumbar yang juga Pelaksana Harian (Plh) Gubernur Sumbar, Ali Asmar. Menurutnya, perlu adanya evaluasi kepada 11 Kabupaten/Kota ini mengapa tidak bisa mencapai target di atas lima persen seperti yang disepakati bersama Kementerian Pertanian.

“Tentu kita perlu lihat langsung apa kendala daerah ini, apakah ini masalah sumber daya manusia (SDM) di daerah atau masalah lainnya,” terang Ali Asmar.

Menurut Sekda, daerah ini perlu mencontoh Kepulauan Mentawai yang saat yang berha­sil menaikkan menaikkan pro­duksi beras di atas lima persen per tahunnya, dari target swasembada Sumbar tiga Juta ton pada 2017 mendatang.

“Mentawai yang berada di seberang laut sana saja bisa, kenapa kita yang tinggal di darat tidak bisa mewujudkan ini, ini perlu kajian dan evaluasi,” katanya.

Dilanjutkan Sekda, ada beberapa komoditi pangan di Sumbar yang surplus seperti, beras, umbi-umbian, ikan, minyak sawit, gula merah, buah-buahan dan sayur-sayuran.

“Berdasarkan analisis dan proyeksi produksi, ketersediaan beras di Sumbar masih surplus di angka 752.640 ton dari produksi 1,3 juta ton setelah dikurangi kebutuhan 574.140 ton,” tuturnya.

Namun meski surplus, lanjut dia, tidak menjamin ketersediaan cadangan pangan cukup karena lebih dari 50 persen produksi beras masyarakat, mengalir ke provinsi tetangga seperti, Riau, Jambi, Bengkulu, Batam, Sumut bagian selatan dan bahkan sampai ke Jakarta.

“Berdasarkan hal tersebut diperlukan upaya khusus (Upsus) percepatan swasembada pangan agar pasokan bahan pa­ngan tersebut sudah dapat diatasi melalui penataan distribusi panganyang efisien,” ucapnya.