Naiknya Harga Bawang Merah Tidak Untungkan Petani

Aktifitas Pedagang Bawang Merah Di Pasar [Gambar: Tempo.co]

MediaTani – Melonjaknya harga bawang merah di pasaran tidak dinikmati oleh petani. Pasalnya terdapat selisih harga yang signifikan antara harga jual petani dan harga bawang merah di pasaran. Seperti yang dilansir Jawapos, beberapa daerah di Jawa Timur, harga bawang merah bahkan mencapai 40.000 rupiah sedangkan harga jual petani stabil pada angka 15.000 rupiah perkilogramnya.

Ketua Asosiasi Petani Bawang Merah (APBM) Jawa Timur (Jatim) Akad, khawatir naiknya harga di pasaran tersebut dijadikan celah untuk memasukkan bawang merah impor di pasar. Menurutnya, keadaan tersebut bukan karena persoalan suplai bawang merah di pasaran yang kurang.

’’Kami khawatir kenaikan harga yang signifikan itu menjadi celah untuk memasukkan bawang merah impor. Apalagi, pemerintah, khususnya Kementerian Perdagangan, memberikan sinyal untuk membuka keran impor. Kami menilai bahwa lonjakan ini bersifat sementara karena menjelang puasa permintaan naik,’’ ungkapnya kemarin (5/6).

Akad menerangkan bahwa, saat ini petani tengah memasuki masa panen raya. Sehingga tidak mungkin pasar kekurangan suplai. Bahkan ditengah menyambut bulan ramadhan sekalipun harga bawang merah diperkirakannya tetap akan stabil.

’’Kalau panen raya, harga bisa turun menjadi Rp 10.000 per kg. Tapi, dengan kondisi iklim yang masuk musim kemarau, harga tersebut sudah menguntungkan bagi kami. Sebab, produktivitas pada musim kemarau naik menjadi 18–20 ton per hektare, sedangkan pada musim penghujan maksimal hanya 15 ton per hektare,’’ terang Akad

Salah satu wilayah yang masuk panen raya nanti adalah Nganjuk yang merupakan sentra bawang merah terbesar di Jatim dengan luas tanam sekitar 12.000 hektare. Daerah lain yang memasok bawang merah di Jawa Timur adalah Probolinggo dengan luas panen sekitar 9.000 hektare. Kemudian sisanya dipasok dari sentra baru seperti Bojonegoro, Ponorogo, dan Magetan yang luas lahannya mencapai 4.000–5.000 hektare. (NI)