Panen Semangka Di Sukoharjo Merosot

MediaTani.com – Produksi semangka di Desa Kudu, Kecamatan Baki, Sukoharjo anjlok selama musim kemarau. Kondisi ini dipengaruhi minimnya pasokan air ke lahan pertanian.
Seorang petani semangka asal Desa Kudu, Kecamatan Baki, Sarip, mengatakan produksi semangka turun sejak Juli 2015 lantaran pasokan air ke lahan pertanian sangat minim.
Biasanya, ia dapat memanen semangka sebanyak empat kuintal setiap dua bulan. Kini, hasil panen semangka hanya 3,5 kuintal.
“Memang semangka tidak membutuhkan pasokan air cukup banyak seperti tanaman padi. Namun tetap saja harus dipasok air saban hari,” katanya, saat ditemui solopos.com, Sabtu (29/8/2015).
Dia mengkhawatirkan produksi semangka bakal menurun drastis saat musim kemarau tahun lalu. Kala itu, musim kemarau cukup panjang sehingga berimbas pada penurunan produksi semangka.
Saat itu, produksi semangka maksimal mencapai tiga kuintal saat masa panen.
“Tahun lalu kan awal musim penghujan pada akhir Oktober. Besar kemungkinan musim kemarau tahun ini cukup panjang seperti tahun lalu,” ujar dia.
Sebagian produksi semangka asal Desa Kudu dipasarkan ke beberapa pasar tradisional di Sukoharjo seperti Pasar Telukan, Pasar Grogol, dan Pasar Ir Soekarno. Sebagian produksi lainnya dikirim ke luar Sukoharjo seperti Karanganyar dan Kota Solo.
Dia meminta instansi terkait mencari solusi alternatif untuk meningkatkan produksi semangka selama musim kemarau. Apalagi, wilayah Desa Kudu menjadi salah satu sentra pertanian semangka.
“Kalau bisa dibangun sumur dalam di sekitar lahan pertanian di Desa Kudu agar para petani semangka tak kesulitan mencari air,” terang dia.
Sementara seorang penjual semangka, Danang, mengatakan tingkat penjualan semangka juga mengalami penurunan sejak Lebaran. Dia mengaku dapat menjual satu-1,5 kuintal/hari. Sebelumnya, Danang dapat menjual semangka lebih dari dua kuintal/hari.
Harga semangka merah dibanderol Rp3.500/kg sementara semangka kuning Rp4.000-Rp4.500/kg. “Saya kulakan semangka langsung dari petani semangka di Desa Kudu. Kalau stok semangka habis, saya kulakan ke Pasar Gede, Solo,” papar dia.
Dia mengaku sempat berjualan keliling menggunakan mobil pick up dari satu kampung ke kampung lainnya. Dia harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar sewa mobil.
Lantaran biaya sewa mobil cukup tinggi, akhirnya ia memilih berjualan di pinggir jalan raya Baki Daleman, kawasan Solo Baru. “Rata-rata biaya sewa mobil pick up Rp150.000/hari. Padahal rata-rata penghasilan saya hanya Rp200.000/hari,” kata dia.