Para Pihak Bertobatlah Mendukung Mafia

Tanggapan Atas Tulisan Faisal Basri Di Kompasiana (Sesat Pikir Menteri Pertanian)

Penulis: Suwandi, Kapusdatin, Kementan

Media massa sedang dibanjiri pemberitaan pangan. Beberapa berita menyudutkan institusi dan personal yang dianggap gagal paham, sesat pikir, tidak berbuat apa-apa dan yang lainnya. Komentar sebagian pengamat disampaikan tanpa analisis tajam dan detail, tanpa didukung data dan fakta lapangan serta tidak mengerti atau sengaja tidak mau tahu masalah sebenarnya. Hal ini berdampak menggiring opini publik yang menguras energi membahas hal tidak produkif.

Pangan adalah mencakup aspek multi-dimensi. Pangan tidak bisa dibahas hanya pada satu sisi produksi atau konsumsi saja, tetapi mencakup aspek yang lebih luas dan semestinya dikupas secara integral, termasuk masalah perilaku manusia.

Sumber resmi Pemerintah data BPS ARAM-II 2015 bahwa produksi padi 2015 sebesar 74,9 juta ton atau naik 5,85%, jagung naik 4,34%, kedelai 2,93% dibandingkan 2014. Demikian juga produksi cabai, bawang merah, tebu dan lainnya juga meningkat. Walaupun terjadi El-nino namun berkat antisipasi dini dan kesigapan Pemerintah, ancaman kekeringan sudah terlewati dan kondisi pasokan saat ini cukup.

Bahkan mulai awal Februari 2016 sudah memasuki panen raya padi sekitar 5 juta ton GKG dan Maret 2016 akan dipanen 12,6 juta ton GKG. Demikian jagung dan bawang merah Februari memasuki panen raya.

Produksi yang tinggi ini ternyata tidak mengalir sampai ke konsumen. Terjadi “anomali” harga pangan di tingkat konsumen. Data bulanan lima tahun terakhir menunjukkan tidak ada korelasi antara harga konsumen dengan pasokan beras. Juga terjadi disparitas tinggi antara di konsumen dengan harga di produsen.

Hal ini menunjukkan bahwa aspek produksi pangan tidak ada masalah, pasokan cukup aman, tetapi bermasalah pada aspek distribusi, sistem logistik, tata niaga, struktur dan perilaku pasar. Namun sayangnya kondisi ini dipahami dangkal dan sangat sederhana oleh sebagian pengamat bahwa harga tinggi di konsumen berarti sistem produksi gagal.

Sistem tata niaga input dan produk pangan ini sudah waktunya dirombak menjadi struktur pasar yang baru yang lebih berkeadilan. Adil sehingga masing-masing pelaku antara produsen, pedagang dan konsumen saling menikmati manfaat.

Mencermati kondisi merajalela mafia, kartel, penyelundup dan lainnya, Mentan Amran Sulaiman langsung bertindak. Lebih dari 30 kasus pengoplos dan pupuk ilegal ditangkap dan diproses hukum. Sebagian kartel lain yang selama ini mengendalikan pasokan dan harga sudah diproses di KPPU. Sebentar lagi kasus impor “pangan” juga menunggu waktu diproses. Solusi meredam perilaku bisnis pangan yang tidak adil telah diterbitkan berbagai kebijakan tata niaga dan regulasi impor secara ketat dan terkontrol.

Kerja keras Pemerintah dalam mengelola pangan ini telah berhasil meningkatkan devisa. Kebijakan mendorong ekspor dan pengendalian impor telah menunjukkan hasil. Kinerja ekspor jagung tahun 2015 naik 1.800% dibandingkan 2014. Ekspor bawang merah 2015 naik 95% dan impor bawang merah turun 74%. Demikian juga peningkatan ekspor dan penurunan impor beberapa pangan lainnya.

Namun rupanya langkah tindakan tegas Mentan inilah disinyalir mendapat serangan balik dari “pihak tertentu” yang merasa terusik karena terganggunya bisnis menguntungkan yang selama ini dia nikmati.

Untuk itu marilah kita berfikir jernih dan berkontribusi nyata terhadap kedaulatan pangan. Berpihaklah kepada petani dan masyarakat lemah. Bertobatlah mendukung kelompok tertentu “mafia” yang menyengsarakan rakyat.

Faisal Basri mestinya belajar pertanian dulu, baru berkomentar soal pertanian. Dia tidak punya pemahaman yang dalam dan data yang lengkap mengenai pertanian. Baiknya dia fokus urusin migas yang hingga kini tidak tuntas.