Pegiat Lingkungan Gelar Aksi di Alun-alun Purwokerto

Mediatani.com – Purwokerto, Jateng. Sore hari sekitar pukul 15.00 – 18.00 WIB jalanan sekitar alun-alun kota purwokerta mendadak ramai oleh massa aksi. Sekitar 40 aktivis lingkungan dari sekitar 17 instansi di Purwokerto dan sekitarnya yang terdiri dari mahasiswa, pelajar SMA dan masyarakat umum menggelar aksi untuk menyerukan kampanye penghentian perburuan primata. Aksi ini dilakukan oleh mereka di ibu kota kabupaten Banyumas dalam rangka peringatan hari primata Indonesia yang jatuh pada tanggal 30 Januari tiap tahunnya.

Seruan ini dilakukan karena perburuan primata di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Pasalnya selain perburuan, proses penangkapan dan pengangkutan beserta perdagangan primata itu seringkali juga begitu kejam.

Ahmad Jauhar Mustofa selaku koordinator aksi mengatakan di seluruh dunia terdapat kurang lebih 250 spesies primata dan lebih dari 40 spesies berada di Indonesia.

“Sekitar 70% jenis primata di Indonesia telah menyandang status terancam punah akibat kerusakan habitat (hutan) dan perdagangan ilegal” imbuhnya.

Hal ini dibenarkan oleh keterangan dari IUCN (International Union for Conservaton of Nature, lembaga internasional yang mengurusi konservasi alam-red) yang secara berkala menerbitkan daftar jenis primata yang paling terancam punah di dunia. Pada laman webnya tertera keterangan 3 jenis primata Indonesia yang masuk dalam daftar tersebut, yaitu Orangutan Sumatera (Pongo abelii), Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), dan Simakobu (Simias concolor).

“Pada momen Hari Primata Indonesia ini kami gunakan untuk lebih mengajak masyarakat dalam upaya pelestarian primata Indonesia, salah satu caranya dengan tidak berburu dan memperujualbelikan primata” tambah pemuda yang akrab disapa Jauhar ini.

Salah satu peserta aksi tersebut, Apris mengatakan bahwa memeliharaan primata di rumah sebagai satwa peliharaan ialah sebuah tindakan yang dapat mengancam kesehatan penghuni rumahnya, karena rawan terjadinya penularan berbagai penyakit seperti TBC, hepatitis dan herpes.

“selain itu dengan membiarkan primata hidup di habitat alaminya, adalah pilihan bijak yang bisa dilakukan setiap orang untuk alasan kelestarian primata dan kesehatan masyarakat” tuturnya pada mediatani sore tadi.

Jauhar menambahkan keterangan bahwa ternyata di Banyumas masih ada Primata yang harus dilestarikan bersama, yaitu Monyet ekor panjang, Lutung Jawa, Rekrekan dan Owa Jawa.

Masyarakat yang melintas di sekitar Alun-alun Purwokerto pun tertarik untuk menanggapi aksi tersebut.

“Saya sepakat dengan mereka (massa aksi-red), kita memang perlu melindungi hewan-hewan langka di Indonesia, khususnya yang ada di Banyumas” ungkap Reno, salah seorang pengendara sepeda motor yang melintas di jalanan tersebut.

Massa mendesak pemerintah untuk lebih serius menangani perdagangan primata yang dilindungi. Menurut UU nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, perdagangan primata dlindungi itu dilarang dan pelakunya bisa diancam dengan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

“Masih banyak primata yang dilindungi undang-undang yang diperdagangkan seperti kukang jawa, owa jawa, lutung jawa, monyet ekor panjang dan siamang. Kami berharap besar kepada pemerintah dan aparat penegak hukum untuk lebih tegas dalam menangani kasus perburuan dan perdagangan primata secara ilegal” pungkas Jauhar.

/MAK