Pemprov DKI Jakarta Terapkan Urban Farming

MediaTani.com Keterbatasan sumber daya alam (SDA) di Provinsi DKI Jakarta, mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggalakkan urban farming (pertanian perkotaan) di enam wilayah DKI Jakarta. Konsep Urban farming ini dirasa sangat tepat untuk dikembangkan karena tidak membutuhkan lahan yang luas.

Salahsatu contoh Urban Farming di New York

Dengan demikian, warga Jakarta yang sulit mendapatkan lahan luas untuk dibuatkan lahan pertanian kini dapat memanfaatkan lahan yang sempit agar bisa menanam banyak tanaman.

Kepala Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan DKI Jakarta, Darjamuni mengatakan pihaknya akan mengembangkan pertanian lahan sempit melalui empat metode. Yaitu, menanam buah dalam pot (tabulampot), hidroponik, vertikultur dan aeroponik.

“Mulai tahun ini, program pertanian perkotaan lahan sempit kita gencarkan di lima wilayah kotamadya dan satu kabupaten administratif. Kami akan lakukan bersama dengan nam suku dinas kelautan hingga ke tingkat seksi pertanian yang ada di kelurahan dan kecamatan,” tutur Darjamuni, Selasa (7/4).

Program pertanian perkotaan ini disambut antusiasme warga Jakarta. Darjamuni mengakui, sebagian besar dari mereka ingin menjadikan lingkungan mereka hijau, sekaligus dapat menikmati hasil dari pertanian mereka. Apalagi dengan pertanian model tersebut, mereka tidak perlu membeli lahan untuk menanam banyak tanaman.

“Kita juga kembangkan program pertanian lahan sempit dengan menggunakan media pot, paralon, plastik dan lain-lain di kantor kelurahan yang tergolong kumuh untuk mengubah keadaan dari gersang menjadi hijau dan enak dipandang,” terangnya.

Masyarakat yangterlibat pun sangat semangat dalam mengembangankan pertanian lahan sempit. Karena itu, pihaknya sudah bekerja sama dengan RT dan RW serta sejumlah komunitas masyarakat untuk mengembangkan program ini.

Hal tersebut terindikasi dari sudah banyak komunitas di Jakarta yang mau belajar dan menekuni pertanian perkotaan lahan sempithingga saat ini. Komunitas masyarakat ini merupakan para pencinta tanaman hortikultura baik buah, sayuran dan bunga.

Tidak hanya di lapangan, ‎para komunitas itu bahkan telah meluncurkan aplikasi “Urban Farming” yang dapat diunduh melalui ponsel ataupun tablet. Aplikasi tersebut diluncurkan untuk memudahkan masyarakat dalam mendapatkan informasi mengenai budidaya tanaman holtikultura.

Untuk mengembangkan program ini, Darjamuni menegaskan pihaknya juga berkoordinasi dengan berbagai kelembagaan. Diantaranya, Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Bencana (BPMPKB) serta Tim Penggerak PKK (TP PKK) DKI.

‎”Kita juga berkoordinasi dengan sejumlah pelaku usaha yang memiliki komitmen untuk mengembangkan pertanian lahan sempit dengan menggunakan dana Corporate Sosial Responsibility (CSR),” tuturnya.
(BS/MUT/MT)