Pengungsi Sinabung Dapat Fasilitas Lahan Pertanian

MediaTani.com – Pelaksana tugas Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi memastikan warga korban erupsi gunung Sinabung yang kini mengungsi, akan mendapatkan fasilitas perumahan yang layak dan lahan pertanian seluas 0,5 hektar.

“Tanah yang akan diberikan kepada pengungsi bukan hanya tanah tapak bangunan, tetapi juga tanah untuk lahan pertanian,” kata Erry, di Kantor Presiden, Senin, 21 September 2015. “Masing-masing Kepala Keluarga (KK) akan dapat 0,5 hektar, jadi total ada 185 hektar (yang akan dibagikan).” Pemberian tanah ini, kata dia, merupakan instruksi Presiden Joko Widodo.

Erry mengatakan ada tiga tahapan pembangunan perumahan dan pemberian lahan kepada warga terkena dampak Erupsi Sinabung. Tahap pertama terdiri dari tiga desa yang akan direlokasi dengan melibatkan 370 KK. “Ini yang akan langsung ditinjau Presiden pada kunjungan nanti tanggal 24 September 2015.”

Tahap kedua, kata dia, akan memasuki pembangunan rumah di empat desa yang jumlah total kepala keluarganya mencapai 1.683. “Total semuanya ada 10 desa dan 2.615 jiwa. Nantinya dari situ kemudian masuk ke tahap tiga pembangunan yang akan direlokasi.”

Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Selasa pekan lalu memuntahkan awan panas sejauh 4.000 meter sektor tenggara timur mengarah ke Desa Gamber, Sukanalu. Kolom abu 3.000 meter dengan jarak luncur awan panas 4.000 meter. Dalam sepekan terakhir, erupsi pekan lalu itu terbesar dengan tremor menerus 0,5-4 milimeter dan dominan 1 milimeter.

Badan Geologi memprediksi erupsi Sinabung masih berlangsung sampai lima tahun ke depan. Lamanya waktu erupsi membuat pemerintah menyiapkan rencana jangka panjang untuk mengamankan pengungsi.

Sinabung pertama kali menunjukkan tanda-tanda aktif pada September 2013. Hingga saat ini, setiap hari masih terjadi guguran lava pijar dan luncuran awan panas hingga radius 3 kilometer. Dana yang telah dikeluarkan pemerintah mencapai Rp 150 miliar sejak Sinabung pertama meletus dua tahun lalu. Total kerugian akibat erupsi itu mencapai Rp 1,49 triliun. (RA/Tempo)