Pertanian Bagai Keindahan Bulan

MediaTani –Pertanian Bagai Keindahan Bulan
Oleh : Nur Ilham, Mahasiswa Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Makassar

Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alam, kita sering mengatakan dan bangga mengklaim diri sebagai Negara agraris ternyata tidak pernah meraih kemakmuran dari pertanian. Apakah itu yang kita bangga-banggakan dari dulu hingga sekarang ?

Pada masa orde baru, Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam sektor pertanian di Indonesia tidak lepas dari perkembangan sektor industri pertanian itu sendiri. Namun, pemerintah saat itu menitik beratkan fokusnya pada pengembangan sektor pertanian karena menganggap ketahanan pangan adalah prasyarat utama kestabilan ekonomi dan politik, pada saat itu pertanian di Indonesia sangat berkembang pesat setelah pemerintah membangun berbagai sarana dan prasarana seperti irigasi dan perhubungan, teknologi dan penyuluhan bisnis serta pemerintah juga memberikan kepastian pemasaran hasil produksi beras per jiwa meningkat dari 95,9 kg menjadi 154,0 kg per jiwa. Mengingat prestasi yang dicapai saat itu, Indonesia tidak lagi mengimpor beras dari Negara-negara lain serta indonesia menjadi contoh bagi negara-negara tetangga dalam bidang pertanian yang sering kita sebut dengan istilah “Revolusi Hijau”.

Dalam bidang pertanian Indonesia dari dulu sampai sekarang sebenarnya telah berkali-kali terjadi perubahan dalam sejarah kehidupan manusia. Pada masa sekarang ini di negara yang maju dan sedang berkembang terjadi perbedaan makin besar dalam taraf hidup masyarakatnya. Berdasarkan Global Food Security Index 2012, indeks ketahanan pangan Indonesia sudah di bawah 50 (skor antara 0-100) dan berada di urutan ke-64 dari 105 negara. Hal ini disebabkan perbedaan antara efisiensi teknologi pertanian dan kenaikan jumlah penduduk serta berbagai macam perbedaan dan permasalahan lainnya.

Jika kita telaah lebih jauh mengenai pertanian, pendidikan dan kaum intelektual yang ada di dalamnya juga sangat berperan penting, dimana pendidikan sebagai salah satu misi spiritual dan sebagai proses mewujudkan kesadaran manusia untuk meningkatkan harkat dan martabat, menjaga keseimbangan ekosistem, mengutamakan universalitas, bertanggung jawab pada kepentingan umum, dan kepentingan generasi mendatang. Karena hingga saat ini, citra pertanian masih saja terpuruk, penyebab keterpurukan tersebut dikarenakan hampir semua petani dan keluarganya yang bermukim di desa yang infrastrukturnya serba terbatas, daya beli yang sangat rendah dan bahkan masih saja ada yang tidak tersentuh perhatian dari pemerintah, sehingga pertanian selalu diidentikkan dengan kemiskinan dan kekumuhan. Penyebab lain yang dialami, sampai saat ini kecenderungan perilaku generasi muda di pedesaan yang tidak lagi tertarik ikut serta dalam kegiatan pertanian padi karena dianggap tidak menarik dan tidak adanya pemberdayaan petani.

Selain itu, masalah yang sangat besar yang dialami masyarakat indonesia dari dulu hingga sekarang tertanamnya dalam diri masyarakat indonesia, dimana masyarakat hanya menjadikan beras sebagai makanan pokok. Persoalan itu sangat disayangkan karena faktanya hampir 90 persen rakyat Indonesia mengonsumsi beras sebagai makanan pokok sehari-hari. Bahkan, selama hampir tujuh dekade Indonesia merdeka, secara dramatis kebijakan pemerintah telah menjadikan beras sebagai pengganti keragaman bahan makanan pokok rakyat Indonesia. tidak hanya itu, beras sudah dijadikan sebagai simbol kesejahteraan dan kestabilan sosial didalam masyarakat.

Berbagai macam masalah yang dialami petani Indonesia, tidak ada satu pun yang diselesaikan oleh pemerintah. Dalam membangun pertanian di Indonesia demi mencapai peningkatan kualitas ketahanan pangan (food security) menuju kemandirian dan kedaulatan pangan (food severeignity) pemerintah mengeluarkan hanya selalu mengeluarkan kebijakan-kebikajakan yang menyebabkan petani bertambah resah.

Pertanian saat ini dapat dibaratkan seperti bulan, nampak indah dari kejauhan. Seharusnya, pemerintah dan kaum intelektual harus lebih memperhatikan serta lebih mendukung lagi pembangunan pertanian agar dapat diperoleh nilai tambah yang memadai untuk terciptanya kesejahteraan mereka para petani beserta keluarganya dengan cara apapun.