Petani Cabai Dulang Untung Di Musim Hujan

Mediatani.com – Musim hujan adalah salah satu waktu yang tidak begitu disukai oleh petani hortikultura. Tanaman sayur memang sangat rentan jika diterpa air yang berlebih. Butuh upaya ekstra agar tanaman tetap selamat dan berproduksi di musim hujan. Petani cabai rawit di Kecamatan karangpandan, Karanganyar DIY misalnya, dengan perawatan khusus, petani berkesempatan mendulang keuntungan.

Petugas Operasional Pertanian Kecamatan Karangpandan, Giyatno menerangkan bahwa luasan ladang cabai di wilayahnya mencapai 5 hektare. Di musim penghujan seperti sekarang, para petani tetap mempertahankan bercocok tanam si pedas, seakan tak mempersoalkan risiko gagal panen, sebagaimana dilansir oleh KRJogja (25/12).

“Kendala alam dapat disolusi dengan teknologi dan rekayasa. Bagi petani yang kreatif, hambatan itu mudah diatasi dengan perlakuan tertentu,” katanya.

Baca : Agar Tanaman Cabe Tetap Sehat di Musim Hujan

Menurut Giyatno, pada umumnya tanaman cabai pada musim penghujan tak mampu bertahan akibat serangan patek atau antraknosa. Akan tetapi serangan penyakit itu dapat ditanggulangi sejak awal pemilihan benih hingga pembibitan cabai. Pollybag yang telah ditumbuhi bibit cabai kemudian dipindah ke guludan atau gundukan tanah memanjang. Penyemprotan fungisida secara rutin akan meminimalisasi pertumbuhan cendawan di areal pertanaman cabai.

“Pengalaman gagal panen membuat petani cabai di Karangpandan tahu apa yang harus dilakukan. Aplikasi yang tepat membuahkan hasil, di saat lainnya pasrah dengan alam,” katanya.

Pada saat ini, harga cabai rawit di Jogjakarta menembus Rp 40 ribu per kilogramnya. Nilai tersebut jauh tinggi dari biasanya yang berkisar pada 3 – 15 ribu rupiah. Hal tersebut menyusul minimnya pasokan jenis sayuran tersebut dari para petani lereng Lawu.

Giyatno menengarai, petani tak mau menanam cabai selain karena faktor musim yang kurang menguntungkan juga mereka enggan berspekulasi. Saat musim panen cabai beberapa waktu lalu, harga jual ke tengkulak jatuh sampai ke level Rp 3 ribu per kilogram.

Terpisah, petani cabai di Karangmojo, Tasikmadu, Priyadi mengatakan, saat ini harga jual ke tengkulak cukup bagus yaitu Rp 14 ribu per kilogram untuk kualitas standar. Harga itu terus mengalami kenaikan seiring geliat pasar menjelang tahun baru. “Panenannya bagus dengan harga pantas. Bisa kembali modal,” katanya.

Namun demikian, petani sayur di Tawangmangu memilih menanam sayuran jenis lain seperti kubis, wortel, buncis dan umbi-umbian. Menurut petani, bercocok tanam cabai sama saja bunuh diri.

“Di hamparan sayuran holtikultura sekitar 50-60 hektare, tak sejengkalpun ditanami cabai. Tanahnya yang terlalu lembab saat ini tidak cocok ditanami itu. Apalagi akibat musim kemarau berkepanjangan kemarin tidak bagus juga untuk menanam cabai sekarang. Risikonya terlalu besar,” kata Bejo Supriyanto, petani sayur asal Dusun Pancot, Tawangmangu.

Ia memprediksi jenis komoditas cabai tidak ditanam sedikitnya di tiga wilayah kelurahan di Tawangmangu. Yakni Kalisoro, Blumbang dan Tengklik. Kalau pun ada, lanjutnya, tidak lebih dari 2 persen area penanaman sayur. (KRJ)