Petani di Cirebon Siap Merugi Karena banjir

Cirebon (MediaTani.com) ~ Intensitas hujan yang turun saat ini di wilayah Kabupaten Cirebon rupanya membuat petani ketar-ketir. Bukan takut rumahnya kebanjiran, tapi khawatir karena lahan sawah yang digarapnya gagal tanam akibat terendam banjir.

Salah seorang petani asal Pangenan, Majid menyebutkan, sudah hampir satu minggu area persawahan miliknya tergenang air hujan. Dirinya khawatir, air yang menggenangi sawahnya itu menyebabkan bibit yang sudah ditanamnya membusuk. “Kalau tanaman kelamaan kena banjir bisa jadi busuk. Saya bisa rugi kalau begini,” tuturnya.

Senada dikatakan petani asal Losari, Nardi. Menurutnya, seluruh sawah yang berada di pinggir jalan Losari pun terendam air. Meskipun kejadian ini selalu terjadi setiap tahunnya, namun perasaan khawatir gagal tanam dan panen tetap menghantuinya. “Yang kita takutkan itu gagal tanam. Apalagi kalau sawah yang ditanam bawang. Itu kalau lebih dari tiga hari terendam bisa mati,” tuturnya.

Diakuinya, salah satu penyebab utama terendamnya areal sawah di Losari adalah saluran air yang tidak berfungsi. “Harusnya pemerintah belajar dari tahun-tahun lalu. Saluran air harus segera diperbaiki,” tuturnya.

Hal serupa juga terjadi di kawasan Cirebon Barat, Kecamatan Gegesik. Salah seorang petani asal Desa Gegesik Kidul, Sisworo mengaku, tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu air di sawahnya surut. Padahal, kata dia, bulan Januari adalah musim tanam di sawahnya. “Saya hanya warga kecil, Mas. Kalau sudah kayak gini saya mau bagaimana. Ya akhirnya harus usaha lain,” ujarnya.

Petani lainnya, Iwan juga menjerit melihat kondisi sawahnya yang digenangi air selama beberapa hari. “Kalau begini saya tidak bisa bekerja. Seharusnya saya bisa bekerja di musim tanam ini,” tuturnya.

Salah satu tokoh masyarakat Gegesik, Dodi (35) mengatakan, pemerintah sudah seharusnya memperhatikan sawah yang setiap tahunnya tergenang. Dirinya pun berharap baik pemerintah desa ataupun Pemerintah Kabupaten Cirebon bisa segera mencarikan solusi atas permasalahan ini. “Karena hal ini membuat petani ketar-ketir. Mereka khawatir gagal tanam karena sawah yang sudah ditanaminya terendam,” tuturnya.

Sudah satu pekan ke belakang, hampir 300 hektare areal sawah di Kecamatan Gegesik terendam banjir. Selain terendam banjir, hamparan sawah tersebut juga diserang hama keong emas dan tikus yang merusak keberlangsungan padi.

Upaya mengatasi sawah yang terendam air, gabungan kelompok tani (gapoktan) Jagapura Kulon melakukan penyedotan air dengan menggunakan mesin sedot. Sementara untuk menghindari serangan hama tikus dan keong mas, para petani berusaha membuat petak atau penghalang di sawah dengan seng dan kayu bambu. Tujuannya agar hama yang merusak padi tersebut tidak memasukinya. Upaya dari masyarakat sekitar tersebut, karena hingga berita dirilis belum ada tanggapan dari pemerintah daerah.

Sekretaris Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Perhutanan (Distanbunakhut) Kabupaten Cirebon, H Muhidin menjelaskan, terdapat titik-titik endemi areal sawah yang langganan terendam air jika musim hujan datang. Titik-titik tersebut berada di daerah Panguragan, Gegesik, Kapetakan, Suranenggala dan Kaliwedi.

Genangan air tersebut, jelas Muhidin bukan tanpa sebab. Penyebab utama genangan adalah intensitas hujan tinggi, sementara saluran ke arah laut yang ada di sekitar areal sawah tersebut tidak optimal.

Normalisasi terkahir oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung dan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan (DPSDAP) dilakukan pada tahun 2011. “Dulu tahun 2011 itu sudah pernah dinormalisasi. Sekitar Rp1,5 miliar untuk 4 saluran itu. Nah, hingga saat ini masih belum ada lagi dan kami akan segera kirimkan surat agar bisa segera dilakukan normalisasi,” tutur Muhidin saat ditemui Radar di ruang kerjanya, kemarin (12/1) .

Setidaknya ada empat saluran sungai yang harus dinormalisasikan. Keempatnya itu Sungai Japagura menuju Klewer, kemudian Sungai Sigranala yang memiliki dua saluran dan Sungai Winong-Lemahtamba. Muhidin menjelaskan, bahwa sedimentasi di sungai tersebut cukup cepat. Hanya dalam kurun waktu beberapa tahun, jalur saluran tertutup lumpur hingga jalan air lebih sempit. “Penumpukan lumpur di sekitar sungai begitu cepat. Sehingga normalisasi pun harus dilakukan dalam waktu yang berdekatan,” lanjutnya.

Genangan air di areal sawah tersebut, diakui Muhidin, menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi para petani. Pasalnya, petani yang telah melakukan penanaman bibit harus siap gigit jari bila genangan air bertahan hingga satu minggu. Terlebih bulan Januari merupakan masa tanam untuk para petani.

“Ketika hujan dan air menggenangi areal sawah, hingga tiga hari pertama kemudian surut, tanaman masih bisa bertahan. Namun jika kemudian air terus menggenang hingga lima bahkan tujuh hari, bibit yang telah ditanam dan baru tumbuh akan membusuk. Dan petani pun akan gagal tanam,” tukasnya.

Di tahun 2014 sendiri, kata dia, sedikitnya 4.005 hektare sawah yang terendam air akibat hujan deras dan mengalami gagal tanam. Dengan kerugian per hektarenya sebesar Rp2,5 juta, maka total kerugian yang dialami seluruh petani se-Kabupaten Cirebon mencapai Rp10.012.500.000. “Kalau banjir itu high cost. Biaya yang dikeluarkan petani sangat besar, karena berhadapan dengan kemungkinan gagal tanam,” tukasnya.

Lalu bagaimana dengan tahun ini? Muhidin masih belum bisa memastikannya. Namun dirinya berharap genangan di area persawahan yang terjadi bisa segera surut, sehingga bibit yang sudah ditanam bisa tetap bertahan dan kemungkinan gagal tanam kecil. “Apalagi bila dilihat saat ini, intensitas hujan berkurang. Semoga saja ini pertanda baik bahwa genangan air di areal sawah tidak begitu parah seperti tahun lalu,” tukasnya.

Sementara itu, Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Majalengka Ahmad F memprediksikan intensitas musim hujan akan mulai meningkat menjelang akhir Januari. Sehingga di akhir Januari hingga pertengahan Februari menjadi puncak musim hujan. “Kita prediksikan akhir Januari hingga pertengahan Februari,” tuturnya. (kmg/den/arn-radarcirebon .com)