Petani Pringsewu Waspada Pupuk Palsu

Petani di Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung diminta cermat setiap membeli pupuk. Hal tersebut menyusul maraknya penemuan pupuk palsu di daerah setempat. Apalagi harga pupuk yang ditawarkan relatif lebih murah dibanding pupuk sejenisnya, ditambah tidak dilengkapi rekomendasi resmi serta tidak disertainya nota pembelian.

Sugiman Tipu, Ketua Kelompok Tani Sari Murni 3 Bulokrejo, Kecamatan Gadingrejo, mengaku acap mendapat informasi para petani yang bukan termasuk kelompok tani yang dipimpinnya mendapatkan penawaran pupuk dengan harga murah, terlebih saat memasuki masa tanam.

Namun, kata dia, sang penjual pupuk palsu hanya menawarkan dan mengedarkan kepada para petani yang tidak masuk kelompok tani. “Yang sering ini pupuk Mutiara Mas, tapi kalo kepada para anggota kelompok tani, si penjual tidak berani menawarkan,” kata Sugiman, Selasa (20/10/2015).

Berdasar pad ainformasi dari narasumber yang enggan disebutkan namanya, lebih kurang 14 ton pupuk palsu jenis Mutiara (warna biru) asal Pulau Jawa telah masuk dan beredar di Kabupaten Pringsewu yang sebelumnya lebih kurang 3 ton lainnya juga sempat beredar di kabupaten lain.

Namun, sedikitnya 10 sak atau 500 kg pupuk yang belum sempat beredar berhasil diamankan jajaran Kodim 0424/Tanggamus belum lama ini berdasar pada laporan para petani asal Kecamatan Gading Rejo yang mengaku tertipu.

Dijual dengan harga Rp300 ribu/sak/50 kg dari harga standar Rp450 ribu-Rp 500 ribu/sak/50 kg, pupuk tersebut berhasil menipu para petani khususnya petani di Kecamatan Gadingrejo dengan iming-iming sang penjual bahwasannya kandungan di dalam pupuk yang belakangan diketahui palsu itu tidak berbeda dengan pupuk sejenisnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Pringsewu Ir. Iskandar Muda melalui Kabid Sarana dan Prasarana Maryanto menjelaskan secara kasat mata sulit membedakan pupuk palsu yang sempat beredar dengan yang asli. Untuk itu, kata dia, dalam pembelian pupuk para petani diharap tidak serta-merta tergiur dengan penawaran harga murah. “Pastikan dalam setiap pembelian turut diminta nota pembelian,” katanya.

Maryanto mengimbau setiap membeli pupuk, para petani agar selalu berkoordinasi dengan ketua kelompok tani sebagaimana mekanisme pembelian telah termaktub dalam rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK). “Jadi kemungkinan petani mendapatkan pupuk palsu bisa dihindari,” imbaunya.