Petani Sragen Kecewa Pada Kebijakan Impor

Mediatani.com – Petani anggota Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Sragen penasaran dengan kebijakan pemerintah yang akhirnya mengimpor beras asal Vietnam mulai 7 November lalu. Kehadiran beras impor ini membuat petani kehilangan momen menikmati harga gabah (GKG) hasil sisa panen terakhir tahun ini.

“Kalau tidak memiliki data sama, kok petani yang jadi korban. Kita sempat salut dengan keteguhan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman yang selalu dan selalu bilang belum perlu impor. Lha ini kok beras impor sudah masuk dan langsung menusuk harga gabah lokal yang dinikmati petani,” kata Ketua KTNA Sragen, Suratno, kepada Media Indonesia, Sabtu (14/11/2015).

Ia paparkan, jika pemerintah tidak memiliki kesamaan data, baik itu dari BPS, Bulog dan juga Kementerian Pertanian yang menyangkut hasil produksi pangan, terutama beras, mestinya jangan terus petani yang kemudian menjadi korban.

Petani, lanjut Suratno telah berupaya keras mengelola tanaman pangan miliknya agar bisa dipanen secara maksimal dan mendapatkan harga bagus pasca panen.

“Tetapi harapan petani selalu hancur. Panen terakhir yang biasanya menjadi kesempatan mendapatkan keuntungan, langsung hilang begitu beras impor datang. Gabah yang tadinya sempat di atas Rp5.000, tapi begitu ada pengumuman 7 November beras impor datang, harga langsung anjlok. Kini tinggal Rp4.500 per kilogram,” ujarnya.

Menurut Suratno, banyak petani menjadi patah arang menyikapi kebijakan beras impor. Bahkan, jika pemerintah terus melakukan kebijakan impor pada setiap akhir tahun, jumlah petani dipastikan merosot.

Dari pantauan Media Indonesia, sejauh ini beras impor asal Vietnam belum masuk ke pasar-pasar tradisional di wilayah Solo Raya, terutama Kabupaten Sragen yang selama ini dikenal sebagai lumbungan pangan kuat di Jawa Tengah.

Terkait harga-harga beras lokal di sejumlah pasar tradisional di wilayah Sragen, harga beras jenis C4 masih bertahan Rp9.500 per kilogram, beras mentik wangi juga masih di atas Rp10 ribu.