Pranatawangsa dan Wargie Dinilai Tidak Efektif Lagi

Mediatani.com – Perubahan iklim global yang kini tengah terjadi berdampak pada siklus pertanian tradisional. Sistem penanggalan pertanian tradisional seperti Pranatamangsa di Pulau Jawa atau Warige di Pulau Lombok sudah tidak efektif digunakan.

Menurut Pakar Antropologi Universitas Indonesia Prof Yunita T Winarto, metode penanggalan pranatamangsa atau warige hanya menggunakan benda angkasa sebagai acuannya. Padahal, benda angkasa seperti bulan dan bintang sifatnya statis.

“Agar penanggalan tradisional lebih efektif, seharusnya turut digunakan teknologi yang berdasar pada metode ilmiah agar memberikan perhitungan masa tanam atau panen yang tepat,” ujar Yunita, usai memberikan penyuluhan kepada petani di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, dikutipAntara, Rabu (20/7/2016).

Menurut Prof Yunita, perubahan iklim global turut mempengaruhi kondisi cuaca atau aliran udara di NTB. Sehingga, bisa dipastikan siklus bertani di wilayah tersebut akan terganggu.

“Dalam dua tahun pengamatan, penanggalan lokal itu sama sekali meleset. Misalnya di tahun 2015 perkiraan akan hujan tapi ternyata ada El-Nino,” kata Yunita.

Yunita juga menegaskan bahwa bentuk kearifan lokal yang berkaitan dengan bercocok tanam tidak semuanya harus ditinggalkan atau mengalami pergeseran fungsi akibat perubahan iklim.

Dia mencontohkan, cara mengenali dan membaca tingkah laku binatang di alam bebas. Binatang dianggap punya indera atau sensor yang tidak dimiliki manusia untuk membaca tanda-tanda peristiwa alam.

“Mereka punya sensor yang tidak dimiliki oleh manusia, itu yang kadang masih bisa digunakan untuk tujuan tertentu,” katanya.

Sehubungan dengan upaya menanggulangi dampak perubahan iklim di bidang pertanian, Pusat Kajian Antropologi Fisip UI bekerja sama dengan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) melakukan penyuluhan kepada petani di Kabupaten Lombok Timur NTB untuk menyikapi hal tersebut.

Sumber: Antara