Produksi Meningkat, Nilai Tukar Petani Justru Menurun

Mediatani.com – Trend nilai tukar petani menunjukkan penurunan di saat meningkatnya produksi petani. Data badan pusat statistik (BPS) menunjukkan pada Desember 2015 sebesar 102,83, Januari 2016 sebesar 102,55 dan turun lagi ke angka 102,23 persen di akhir Februari 2016. Hal tersebut disebabkan oleh rendahnya indeks harga yang diterima petani (it) sebesar 0,18 persen sedangkan indeks harga yang dibayar petani (ib) naik sebesar 0,13 persen.

Eka Sastra, Anggota DPR Fraksi Golkar mengungkapkan bahwa keadaan tersebut disebabkan tingginya biaya input produksi yang ditanggung petani seperti, benih, pupuk, dan input lain yang banyak dibeli petani dari tengkulak dan dibayar setelah panen. Pada sisi lain, harga pun dapat dikendalikan oleh tengkulak yang pada akhirnya peningkatan produksi tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan khususnya para petani pengarap.

“Belum maksimal, keuntungan sektor pertanian masih diterima oleh para pedagang dan merugikan petani dan konsumen.” Tutur Eka pada mediatani.com, Jumat (25/3/2016).

Pria yang akrab disapa “Kang Eka” oleh konstituentnya ini beranggapan bahwa lebarnya Selisih harga beras dari petani sampai ke konsumen menujukkan masih tingginya tingkat keuntungan pedagang beras. Untuk itu pemerintah mestinya melakukan upaya komprehensif untuk meningkatkan kesejahteraan petani . Dengan demikian petani untuk bertani dengan baik.

“ dan didukung dengan pengetahuan dan tekhnologi pertanian yang memadai. Mulai dari budidaya sampai pemasarannya.” Tambahnya.

Eka menjelaskan bahwa upaya komprehensif tersebut harus memperhatikan seluruh alur produksi pertanian baik on farm maupun off farm.Sehingga bukan hanya aspek produksi saja yang digenjot akan tetapi penanganan paskapanen pun harus diperhatikan.

“Dari sisi budidaya produksi beras kita masih rendah sekitar 6 ton per hektare dengan biaya input tinggi, pengolahannya masih menggunakan tekhnologi sederhana seperti penggilingan ukuran kecil yang tentu saja tidak efisien dan menghasilkan beras yang kurang berkualitas.” Ungkap Eka.

Eka sastra menyarankan tiga langkah yang harus dilakukan pemerintah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan petani. Pertama, penguatan koperasi sehinga dukungan pembiayaan seperti KUR perbankan dapat tersalurkan melalui koperasi untuk melindungi petani dari tengkulak serta distribusi benih, pupuk bersubsidi dan juga alat pertanian.

“Kedua, gabungan beberapa koperasi tersebut difasilitasi dengan tekhnologi penggilingan skala besar agar lebih ekonomis, efisien dan berkualitas bagus, baik oleh pemerintah maupun oleh Bulog. Dan Ketiga, pelaksanaan resi gudang secara efektif agar petani dapat melindungi diri dari kejatuhan harga.” Tuturnya.

/IA