Sayur Mayur Kabupaten Gowa Tembus Pasar Kalimantan

MediaTani – Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel) di kenal sebagai pemasok kebutuhan sayur mayur di provinsi tersebut. Bahkan Saat ini produksi sayur dari daerah tersebut telah berhasil menjadi pasokan sayur mayur di berbagai daerah di Pulau Kalimantan. Hal tersebut terlihat di pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar. Setiap harinya terlihat mobil truk mengangkut hasil pertanian melalui Pelabuhan tersebut untuk selanjutnya menuju Samarinda dan Bontang, Kalimantan Timur.

Salah satu lahan budiaya Selada

Pasokan hasil pertanian tersebut semakin berkembang dengan pesat, khususnya di wilayah dataran tinggi di Kecamatan Malino, Tombolo Pao, Tinggi Moncong dan Bungaya, wilayah tersebutlah yang mengangkat peran Kebupaten Gowa sebagai sentra produksi sayur-mayur dan buah.

Komoditi utama yang dikembangkan oleh para petani di daerah tersebut di antaranya adalah kentang, kubis, wortel, daun bawang, buncis dan tomat. Produksinya pun selain memasuki pasar lokal di kota Makassar, lebih banyak diantarpulaukan ke daerah Kalimatan atau memenuhi permintaan dari Maluku dan Papua.

“Sekali mengirim bisa mencapai sekitar 14 ton dengan biaya pengiriman Rp 4,5 juta sampai ke Samarinda,” kata Ismail, petani dari Desa Buluballea, Minggu (26/4).

Pemanfaatan asupan teknologi pertanian telah membuat pertanian masyarakat setempat semakin maju, adopsi teknologi tersebut mereka padukan dengan teknik budidaya secara tradisional sehingga mampu memberikan hasil maksimal. Jika pada masa-masa sebelumnya, keuntungan para petani lebih dinikmati oleh para pengijon dan pengumpul yang juga sering memainkan harga, saat ini sudah banyak petani yang mapan, memiliki truk dan menjual langsung.

Produksi sayur-mayur Gowa mulai meningkat sejak 2009 ketika petani mulai melakukan perluasan areal tanam serta memanfaatkan teknologi, penduduk Gowa sebagian besar bekerja di sektor pertanian yang memberi kontribusi terbesar terhadap PDRB (produk domestik regional bruto).

Kamaluddin, salah seorang petani di Pattapang mengatakan, kemajuan tersebut dirasakan sejak kepemimpinan Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo, jalan desa terbuka sampai ke lokasi pertanian sehingga memudahkan kendaraan untuk mengangkut hasil panen.

Hal itu juga dibenarkan, Syukri, Sekretaris Desa (Sekdes) Kanreapia, sejak jalan terbuka, Desa Kanreapia yang berpenduduk lebih 1.008 kepala keluarga di tujuh dusun telah menikmati infrastruktur jalan pengerasan dan setiap tahun pemerintah memprogramkan pembuatan jalan desa dan didukung oleh warga.

Sebelum akses jalan desa terbuka, petani sering diperhadapkan pada risiko kerugian, hasil panen biasanya tertumpuk membusuk lantaran berhari-hari menunggu angkutan.

“Dulu kami sering merugi karena hasil panen terlalu lama ditumpuk sehingga banyak yang rusak, selain itu biaya untuk mengangkut juga menjadi mahal. Sekarang sudah enak, pembeli yang datang bahkan petani di sini juga sudah banyak yang merangkap sebagai pengumpul dan pedagang antarpulau.

Sekarang petani semakin giat mengejar panen dua kali setahun karena hasilnya lumayan, Syukri juga menambahkan bahwa di sini tidak ada lagi pengijon, mereka tergusur dengan sendirinya setelah ditumbuhkan tradisi usaha tani yang disebut “Tesang” atau bagi dua hasil. Pemilik lahan dan penggarap sama-sama memodali usaha penanaman dan hasil panen dibagi dua.

“Tidak ada peluang bagi ijon sejak Tesang dikembangkan, tradisi ini sangat adil sebab tidak ada dominasi pemilik lahan, semua menyetor modal, penggarap pun demikian dan hasilnya dibagi dua,” katanya.