SPF ajak Masyarakat Paparu Peringati Hari Lingkungan Hidup

Mediatani.com – Saireri Paradise Foundation (SPF) turut serta memperingati hari lingkungan hidup sedunia (5/6/2016). Sebagai organisasi yang aktif dalam dunia konservasi spesies khas Papua khususnya burung Cendrawasih dan Penyu selalu mengambil bagian dalam peringatan lingkungan hidup sedunia tersebut. Berkat dukungan dari PT Freeport Indonesia melaksanakan kegiatan peringatan hari lingkungan hidup sedunia di Desa Paparu, Distrik Raimbawi, Kab. Kepulauan Yapen.

Berangkat dari kesadaran bahwa pentingnya kelestarian fungsi lingkungan bagi generasi penerus, panitia pelaksana menetapkan tema kegiatan peringatan hari lingkungan hidup pada tahun ini dengan “Melestarikan Alam Untuk Anak Cucu Kita”.

Kegiatan ini mendapatkan sambutan yang sangat baik dari masyarakat Paparu dan desa-desa yang ada di sekitarnya. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya peserta kegiatan yang hadir, bahkan panitia pelaksana sampai memindahkan tempat pelaksanaan kegiatan dari yang awalnya ditetapkan di aula gereja ke aula SMP Paparu.

Ketua panitia pelaksana, Adolof Siburi dalam sambutannya menekankan bahwa adalah sebuah kesalahan dan perbuatan dosa jika generasi hari ini mewariskan kondisi lingkungan hidup yang semakin rusak pada saat ini untuk generasi penerus khususnya di Paparu.

“kondisi lingkungan hidup (paparu) yang ada saat ini sangat berbeda dengan kondisi lingkungan 20 dan 30 tahun yang lalu.” Tutur Adolf Siburi yang juga merupakan sekretaris jemaat GKI Maranatha Paparu.

Perwakilan jemaat GKI Maranata yang diwakili oleh Bapak Gerson Rumkorem, dinyatakan bahwa masyarakat Paparu telah memiliki komitmen yang kuat untuk melestarikan kekayaan alam yang ada di kampung Paparu dan telah memulai upaya pelestarian Penyu dan Cendrawasih secara sukarela.

Peringatan hari lingkungan hidup tersebut diawali dengan diskusi mengenai bagaimana cara masyarakat mampu mengambil peran yang nyata dalam melestarikan lingkungan. Diskusi yang dipandu oleh Koordinator program edukasi SPF, Akmal F. Patopang ini diawali dengan sebuah materi tentang bagaimana kondisi kekayaan hayati Papua yang populasinya terus menurun dan langkah apa yang bisa diambil oleh masyarakat agar bisa berkontibusi positif dalam melestarikannya.

Akmal menekankan bahwa walaupun masyarakat Paparu dengan populasi yang sidikit dan hidup terpencil juga memiliki tanggung jawab dan bisa berperan aktif dalam merubah kondisi yang ada, hal ini sesuai dengan konsep “berpikir secara global dan beraksi secara lokal”.
“masyarakat Paparu harus menjadikan kegiatan tersebut sebagai awalan untuk memulai kegiatan yang lebih nyata dan konkret, sehingga peringatan tersebut tidak saja bersifat seremonial dan berakhir diruangan saja.” Tutur Akmal.

Materi tersebut mendapat tanggapan yang beragam dari para peserta, dimulai dari ketidaktahuan masyarakat tentang jenis-jenis yang dilindungi secara hukum, praktek-praktek pemanfaatan jenis yang dilindungi telah terjadi sejak zaman dulu, hingga kebingungan masyarakat untuk memulai kegiatan pelestarian serta kurangnya perhatian pemerintah dalam pelestarian lingkungan di kampung-kampung.

Diskusi dua arah berlangsung cukup lama dan melibatkan banyak peserta, pada akhirnya disimpulkan bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama dan semua pihak harus mengambil peran yang sesuai dengan kemampuannya agar kerusakan lingkungan yang terjadi tidak terus berlangsung. Diskusi tersebut diakhiri dengan pemutaran video tentang burung Cendrawasih dan Penyu yang ada di Distrik Raimbawi termasuk dokumentasi kegiatan masyarakat dalam melestarikannya.

Setelah diskusi berakhir, kegiatan peringatan hari lingkungan hidup ditutup dengan melepaskan liarkan 92 ekor tukik Penyu lekang. Pelepasanliaran tersebut dilakukan oleh semua peserta dari berbagai tingkatan umur.

Syabor Ampasoi, salah satu pemuda dari Paparu mengaku sangat senang dengan diadakannya kegiatan tersebut dan mendapatkan banyak pengetahuan yang baru serta berharap agar SPF selalu memberikan pendampingan kepada masyarakat untuk bisa terlibat aktif dalam melestarikan lingkungan hidup yang ada di kampung.

[ADV]/IA