Tahun 2035 Tidak Ada Lagi Petani Di Sukabumi

Mediatani.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi memperediksikan pada tahun 2035 mendatang tidak ada lagi penggarap ladang ataupun sawah sebagai petani. Hal itu diakibatkan regenerasi di sektor pertanian tidak berjalan baik. Saat ini petani di Karawang yang terdata sebanyak 5.321 orang. Ribuan petani tersebut mayoritas berusia di atas 50 tahun, dengan demikian 20 tahun ke depan diprediksi sudah tidak ada lagi petani.

“Kalau tidak mencetak generasi muda dari sekarang untuk menggarap lahan-lahan pertanian, khususnya sawah. Maka ditakutkan pasokan komoditas pangan kita dalam jangka 20 tahun tepatnya tahun 2035 ke depan akan habis. Lantaran tak ada lagi yang mau menggarap lahan pertanian,” ujar Walikota Sukabumi, M Muraz.

Muraz menjelasakan dengan adanya kawasan Agroeduwisata Cikundul yang merupakan sentra pendidikan, wisata, sekaligus pertanian di Kota Sukabumi, bisa menjadikan generasi muda yang akan menjadi petani. Menurutnya, petani merupakan tugas yang mulia karena banyak memberi makan orang banyak.

“Adanya kawasan Agroeduwisata Cikundul ini tentunya bisa mengembalikan lagi generasi muda untuk mencintai sektor pertanian. Saya berharap cikal bakal petani bisa muncul di sini,” jelasnya.

Muraz juga mengaku sudah meminta Dinas Pendidikan agar menginstruksikan ke sekolah-sekolah untuk mengurangi kegiatan study tour ke sejumlah tempat wisata di luar daerah. Kegiatan study tour bisa dilakukan di kawasan agroeduwisata yang jelas-jelas akan mendorong siswa untuk mencintai sektor pertanian.

“Saya sudah minta Dinas Pendidikan agar setiap sekolah itu tidak selalu melakukan study tour ke tempat-tempat wisata yang ujung-ujungnya tak memberikan manfaat jelas. Ya, dalam tiga tahun minimalnya hanya satu kali study tour ke luar daerah,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi, Kardina Karsoedi menyebutkan jumlah petani di Kota Sukabumi saat ini sebanyak 5.321 orang. Rata-rata usianya mayoritas sudah di atas 50 tahun. “Mereka juga merupakan petani penggarap, bukan pemilik,” Tutupnya. (PJS)