Waspada, Buah Ini Mengandung Sianida

Mediatani.com – Belakangan ini istilah Sianida menjadi popular di kalangan masyarakat. Pemberitaan yang marak mengenai kasus tewasnya Wayan Mirna Salihin akibat keracunan sianida yang dicampurkan dalam kopinya membuat orang kembali mengenal racun ini.

Tahukah anda, Sebenarnya sianida bukan hanya bisa diperoleh melalui bahan kimia yang dijual di toko kimia atau apotek. Ternyata pada sejumlah bahan alami, seperti makanan dan tumbuhan, terdapat kandungan sianida.

Di antaranya adalah singkong, kacang lima, almond. Bahkan, biji buah tertentu mengandung sianida misalnya aprikot, apel, dan persik. Kadarnya namun tidak substansial hingga tubuh sanggup memetabolismenya tanpa keracunan. Bagian yang bisa dimakan dari buah dan tumbuhan itu mengandung sianida dalam kadar rendah.

Selain ditemukan di bahan alami, sianida terdapat pula di asap rokok dan hasil pembakaran bahan sintetis seperti plastik. Sianida dihasilkan ketika plastik atau rokok dinyalakan api hingga menimbulkan asap.

Sianida (CN) dikenal sebagai senyawa racun dan mengganggu kesehatan serta mengurangi bioavailabilitas nutrien di dalam tubuh. Racun ini menghambat sel tubuh mendapatkan oksigen sehingga yang paling terpengaruh adalah jantung dan otak. Kadar sianida yang tinggi dalam darah dapat menyebabkan efek yang berbahaya, seperti jari tangan dan kaki lemah, susah berjalan, pandangan yang buram, ketulian, dan gangguan pada kelenjar gondok.

Sianida sesungguhnya dibutuhkan untuk sejumlah industri seperti kertas, tekstil, dan plastik. Sianida juga digunakan untuk mencetak foto. Sedangkan garam sianida dipakai di industri metalurgi, hingga menghilangkan emas dari bijihnya. Termasuk bermanfaat untuk membunuh hama dan kutu di kapal serta bangunan.

Dalam era perang hidrogen sianida dengan nama Zyklon B dipakai sebagai agen pembunuhan massal oleh Jerman. Tepatnya saat Perdang Dunia II.

Bahkan, dilaporkan saat peperangan Iran Irak di 1980, gas hidrogen sianida digunakan bersama bahan kimia lain untuk membunuh penduduk Kota Kurdi di Irak utara, dikutip dari laman CDC, Rabu (20/1).